Gallery

Nasib Naas Apeldos

Gwendoline akan menceritakan tentang hp-nya yang bernama Apeldoz. Apeldos dihadiahkan oleh Adiknya. Ketika itu dia menelpon menanyakan apakah Gwen mau dibelikan sebuah hp baru. Tentu saja Gwen setuju seratus persen dan tidak menolak. Saat itu, dia tidak memberitahukan hp apa yang akan dihadiahkan kepadanya. Gwen memandang Samson, hp berwarna hitam yang telah menemaninya kemana pun. Gwen berjanji akan tetap menjaga Samson walaupun ia mempunyai hp baru. Sebulan kemudian adiknya pulang ke Padang dan memberikan sebuah kotak berbungkus cantik. Gwen membuka bungkus itu dengan hati-hati dan hati berdebar-debar. Hp itu berwarna putih dengan pinggiran berwarna perak disampingnya. Gwen menggenggam hp itu, senang sekali, dan sejak saat itu ia menamakannya Apeldos.

            Gwen memeluk Adiknya untuk mengucapkan terimakasih. dia hanya tersenyum senang dan mengingatkannya untuk selalu menjaganya. Dia sudah hafal betul sifat Gwen yang terledor dan sedikit ceroboh terhadap barang.  Si Mitong berakhir dengan kehilangann tombol-tombolnya, si Bimbim tertinggal di taksi, si Simon pun tak bernasib baik, masuk ke dalam lubang wc, si Ximen hancur berantakan tak berbentuk dan sederet hp yang tidak diingat lagi namanya. Sehingga ketika Apeldos dihadiahkan kepada Gwen, adiknya ingin agar ia menjaganya baik-baik. Apeldos yang berwarna putih dan terlihat lebih rapuh selalu dijaga. Jangankan membantingnya, tidak pernah Apeldos terkasarkan oleh Gwen.

            Sungguh malang nasib Apeldos. Ini terjadi ketika hari ulang tahun Gwen.  Hari itu,  dia dan kawan-kawan di kelas sedang belajar tentang relasi kalimat. Apeldos sudah mulai kekurangan baterai, sehingga Gwen menitipkannya kepada temannya yang duduk di dekat dengan colokan listrik.  Kali ini Gwen duduk agak jauh dari colokan listrik. Sehingga ia meminta tolong kepadanya untuk men-charge Apeldos. Dengan hati-hati ia mengopernya kepada teman di sebelahnya agar memberikan kepada teman yang duduk didekat colokan listrik tersebut.  Ketika Gwen duduk di dekat colokan, teman-teman lain terkadang juga  menitipkan hp mereka padanya, bahkan ketika colokan penuh, mereka menumpang menggunakan kabel data di notebook. Gwen tidak pernah merasa keberatan dan ia mengembalikan hp mereka dengan baik. Karena apapun yang dipercayakan orang lain kepada kita untuk menjaganya, haruslah dijaga dengan baik.

            Lima belas menit sebelum pulang, Gwen memberitahukan kepada temannya yang sedang duduk di dekat colokan untuk mengembailikan Apeldos. Maklum, namanya manusia terkadang suka lupa. Dia membantu Gwen mengambilkan Apeldos. Prak… bunyi benda terjatuh, Gwen mendengar. Ternyata Apeldos terjatuh. Apeldos jatuh tidak dari tempat yang tinggi. Ketika mendengarkan suara itu Gwen membalikkan kepala dari tempat Apeldos terjatuh. Gwen menggigit kedua bibirnya. Sungguh malang Apeldos. Temannya itu tidak menoleh. Dan dia merunduk ke bawah untuk mencabut charger dari colokan (colokan terletak dibagian bawah). Ternyata dia terlalu ceroboh terhadap Apeldos. Sehingga, Apeldos mengalami nasib naas yang tidak terelakkan. Prang…bunyi Alpedos terjatuh sangat keras sekali. Sehingga seisi kelas yang hanya terdiri dari dua belas siswa itu bertanya-tanya, darimana gerangan suara itu berasal. Teman yang duduk dekat colokan mengambil Apeldos dan mengopornya ke teman sebelah Gwen tanpa berkata satu patah kata pun. Sungguh lemas Gwen melihat situasi tersebut. Apeldos jatuh dari tempat yang begitu tinggi, Alpedos siputih Gwen  yang rapuh. Gwen bersedih di hari ulang tahunnya dia melihat Apeldos terkulai lemah.

            Gwen mengmbil Alpedos dan memasukkannya ke dalam tas. Karena suara jatuh tadi dan orang bertanya-tanya apa yang terjatuh. Gwen membiarkan Alpedos di dalam tas dulu untuk sejenak. Gwen berpikir Alpedos masih shock jatuh dari tempat setinggi itu. Gwen juga terhenyak lemas. Selesai pulang kuliah Gwen duduk di lantai satu dan melihat sejenak Alpedos. Gwen mencoba menghidupkannya. Gwen tidak berhenti mengucap syukur ketika ia masih menyala. Sungggu senang hatinya. Namun ketika teman disebelahnya melihat suatu kejanggalan pada Alpedos. Ternyata Alpedos sudah tidak sama seperti dulu lagi, Alpedos cacat. Hp Gwen rusak di bagian belakngnya, bagian casing yang kaca itu rusak parah. Gwen menangis karena Apeldos cacat. Wajah adik yang bekerja keras menghadiahkan Apeldos terbayang olehnya. Gwen sungguh sedih. Adiknya saja membeli hp baru ketika dia sudah satu tahun lebih bekerja, itu pun karena tuntutan pekerjaan. Dia tidak sama seperti orang lain, yang ketika memperoleh gaji menghabiskan membeli barang-barang baru. Dia menghargai hp tua yang dimilikinya. Dia membeli yang baru karena tingkat pekerjaan yang lebih intens untuk komunikasi yang lebih cepat, sehingga ia membelikan hp baru untuk dirinya, dan Apeldos diberikan tak lama setelah dia membeli hp baru untuknya.

            Besoknya ketika di kampus ketika Gwen hendak memberitahu temannya mengenai nasib Apeldos. Temannya itu tidak masuk kuliah. Sehingga Gwen memutuskan untuk memberitahukan lewat pesan bahwa Apeldos yang dititipkan kepada temannya itu, rusak sudah. Dan tidak ada sepatah kata maaf pun dari dia. Gwen mencoba menscroll pesan keatas, siapa tahu ada hal yang luput yang dibacanya. Dia membalasnya dengan kata ba a? Yang artinya bagaimana?. Tidak ada sebaris kata maaf yang terdapat disana. Ya sudah , biarkan saja dulu. Minggu depan ketika bertemu dengannya di kampus, Gwen mengeluarkan Apeldos dan mengatakan “ ini kak hpku yang rusak”.  Tanpa rasa simpati sedikitpun dia mengucapkan kata o dan tidak menggubris untuk melihat Apeldos yang cacat. Karena reaksi dia seprti itu, Gwen masukan apeldos kedalam tas, dan temannya itu tetap melanjutkan menelpon. Mungkin Gwen tuli waktu itu, tidak ada sebaris kata maaf yang terlontar dari dia. Okey, Gwen membiarkan saja dulu.

            Ketika di kelas Gwen dan teman-teman berdiskusi tentang gangguan pragmatik terjadi di bagian sebelah kanan otak.  Gangguan pragmatik bisa saja bentuk gangguan yang terjadi karena gagal paham mengenai konteks, dalam bertutur bahkan gangguan dalam kesopanan. Ketika itu, di kelas Gwen bertanya mengenai apakah orang yang tidak bisa menempatkan konteks, seperti dia menjatuhkan hp orang dan tidak meminta maaf, apakah dia mengalami gangguan otak di bagian otak sebelah kanannya. Karena itu sangat berhubungan dengan pragmatik, dimana seseorang harus bisa memahami konteks. Dan konteks disana sudah jelas dia sudah menjatuhkan hpnya dan tidak tidak ada niat sedikitpun meminta maaf. Padahal jika dilihat dari latar belakang pendidikan, dia memilki latar pendidikan yang bagus. Sungguh kecewa Gwen  terhadap temannya itu bagaiaman cara ia memperlakukan Apeldos.

            Mungkin bagi dia Apeldos itu hanya hp buntut, tapi dia tidak mempunyai hak untuk memperlakukan Apeldos dengan buruk. Jika apeldos tidak sengaja dia jatuhkan, dia bisa minta maaf. Bahkan satu kata itu tidak pernah terlontarkan dari mulutnya. Mungkin bagi dia Apeldos itu sama dengan hp-hp yang lain. Mungkin dengan uangnya dia mampu membeli seribu Apeldos. Mungkin dia mampu hp yang lebih bagus dari Apeldos. Tapi bukan itu inti yang sebenarnya.

            Seminggu setelah kejadiaan Apeldos yang terjatuh. Adik Gwen pulang kerumah untuk berlibur. Ketika tidak sengaja dia melihat Apeldos yang sudah menjadi buruk rupa setelah terjatuh. Dia bertanya kenapa Apeldos seperti itu, tanpa berpikir panjang adikknya menyalahkannya karena tidak menjaga Apeldos dengan baik.  Gwen hanya diam saja, mungkin adiknya berkaca dari pengalaman terdahulu sehingga tidak salah dia berkesimpulan jika Gwen tidak menjaga Apeldos dengan baik. Gwen diam saja ketika diceramahi. Gwen tahu bagaimana adiknya bekerja keras untuk mengumpulkan uang, bekerja pagi hingga lembur sampai malam. Gwen mengerti dia kecewa, ketika dia pulang ke rumah dan melihat pemberiannya tidak dijaga dengan baik.

            Musibah memang tidak ada yang bisa menduga, namanya juga saja kecelakaan. Tidak ada yang menginginkannya. Bisa saja Apeldos memang sudah bernasib seperti itu. Namun, Gwen kecewa, hingga detik ini dia tidak mengucapkan satu kata maaf kepada Gwen. Sudah cukup Gwen memberitahu, Gwen mengirimkan pesan, gwen memperlihatkan Apeldos, secara satir ketika persentasi di kelas. Namun sayang, pendidikan yang mumpuni belum bisa menelurkan kata maaf itu. Pendidikan yang bagus memang tidak berbanding lurus dengan kesopanan dan cara seseorang memahami konteks. Banyak orang berpendidikan tinggi yang gagal mengucapkan kata ini, bahkan ketika dia baik dengan sengaja atau tidak menyinggung perasaan orang lain.

            Cerita yang dialami Gwen, mengingatkan saya bahwa pentingnya satu kata mujarab ini (maaf). Kata ini memang hanya terdiri dari empat huruf. Tapi dampak psikologis yang diberikan mampu meredakan amarah dikala tinggi, menunjukkan kebesaran hati seseorang, mengatasi perbedaan yang ada, menunjukkan ketidaksengajaan, dan yang paling penting menyatakan bahwa kita telah melakukan suatu kesalahan. Menunjukkan bahwa kita salah, bukan berati kita kalah. Maaf adalah  reperesentatif dari kebesaran hati dan  memang tidak mudah untuk mengucapkannya. Dan begitu banyak sebab yang menyebabkan kenapa satu kata mujarab ini sulit diujarkan. Maaf, sebelumnya, jika cerita pendek ini ada yang merasa tersentil.

Nilai moral: jagalah baik sesuatu yang dititipkan padamu. Minta maaf lah jika salah.

28-29 Maret 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s