Gallery

Part 5, Malaka, Kota Tua di Tengah Modernisasi

Akhirnya sampai juga rombongan kami di Malaka. Udara panas langsung menyeruak menghampiri kami. Teman-teman di rombongan mengeluarkan senjata ampuhnya, payung, pelindung yang langsung dibawa dari Indonesia. Saya pun menggunakan topi. Namun, topi pun tidak cukup ampuh melindungi hawa panas, saya menambahkan syal untuk melindungi diri. Tak heran cuaca di Malaka berkisar sampai 31ᵒ C, karena berada didekat laut. Sebelum kita mengobok-bok kota tua Malaka ini, tidak ada salahnya untuk melihat ke belakang sejenak untuk melihat sejarah pembentukan kota ini.

Malaka merupakan kota perdagangan yang berdiri dalam kurun 1376-1400. Kalau kita boleh merujuknya, usia Malaka sudah sangat tua lebih dari 600 tahun. Seperti pembentuan sebuah kota lainnya, Malaka juga mempunyai legenda. Konon menurut cerita, Malaka dibangun oleh pangeran dari sumatra yang bernama Pramweswara, yang harus mengungsi karena kerajaannya diserang oleh Majapahit. Suatu ketika Prameswara pergi berburu bersama anjingnya. Disaat ia beristirahat disebuah pohon ia melihat anjingnya berusaha menaklukkan seekor kancil. Sang kancil yang bertubuh kecil dan lemah berhasil menaklukan anjing dan menjatuhkannya ke sungai.

Melihat kejadian tersebut ia mendapatkan sebuah ilham. Ia mengumpamakan kancil tersebut ibarat dirinya yang sedang terasing, kecil ,lemah dan dikepung oleh musuh-musuh. Ia pun berkesimpulan, bahwa tempat yang ia naungi saat itu merupakan tanah keberuntngan bagi orang sepertinya. Oleh karena itu ia memutuskan untuk membangun sebuah kota ditanah tersebut. Insting dan nalurinya untuk bertahan hidup sangatlah tepat. Malaka segera menjadi kota pelabuhan yang sangat kuat pada zamannya. Pertama karena letaknya yang sangat strategis, lokasinya terlindung dari ombak besar, serta mampu menyediakan air bersih bagi kapal-kapal yang sedang singgah. Diperkirakan pada tahun 1405, laksamama Cheng Ho yang terkenal itu bersama armadanya pernah singgah di Malaka untuk mengadakan misi persahabatan.

Malaka pun menjadi mitra dagang China dengan keuntungan perlindungan dari kerajaan Siam. Setelah Malaka berubah menjadi kesultanan islam, banyak pedagang-pedagang dari Timur Tengah yang tertarik untuk berdagang di Malaka. Kemasyhuran Malaka sampai ditelinga orang-orang Eropa, sehingga tentara Portugis dibawah pimpinan Alfonso d’Alburquerque pada tahun 1511 berhasil menaklukkan Malaka dan mendirikan kolonial dagang disana. Malaka pun pernah jatuh ketangan Belanda setelah 130 tahun dikuasai oleh Portugis. Namun, Belanda lebih tertarik dengan Batavia (pada saat ini kita kenal dengan Jakarta) dan memusatkan kekuasaanya disana. Berdasarkan perjanjian Anglo-Dutch pada tahun 1824, Malaka diserahkan kepada Inggris dan ditukar dengan Bengkulu.

Malaka adalah salah satu kawasan di Asia yang lama dikuasai oleh Eropa. Malaka memperoleh kemerdekaan pada tahun 1957  dan diakui sebagai salah satu negara bagian di Malaysia. Meskipun Malaka sebagai kesultanan tertua di Malaysia, namun pada saat ini ia dipimpin oleh gubernur. Kesultanan di malaka hancur ketika dikuasai oleh Portugis. Malaka bersama Sabah, Serawak dan Penang dipimpin oleh gubernur, tidak sama seperti negara bagiann lain yang dipimpin oleh seorang Sultan.

Setelah berkutat dengan sejarah panjang terjadinya kota Malaka, tidak ada salahnya kita menghirup udara Malaka sambil menyeruput es krim (jangan heran selama satu hari disini, saya makan es krim tiga kali, cuacanya benar-benar panas untuk saya). “nah kita sudah sampai, “ kata sopir bus, yang harus berpusing-using dulu mencari parkir bus karena kami datang disaat weekend. Malaka penuh padat pengunjung. Malaka disesaki oleh turis-turis lokal dan mancanegra. Saya melihat turis-turis lokal disini tidak beda jauh dengan wisatwan di Indonesia. Mereka biasanya berpergian dengan keluarga besar, mulai dari kakek sampai cicit-cicitnya. Sebuah perjalanan lintas generasi yang sangat menarik.

Malaka sendiri diakui sebagai situs warisan dunia UNESCO. Karena sejarah panjangnya sebuah kota, dan Malaka memilki ciri khas yang tidak dimilkki oleh tempat lain. Disini kita bisa menemui keturunan Portugis kaum chitty, alkuturasi kebudayaan Baba Nyonya diselat Malaka. Pada saat ini keturunan-keturuan ini masih eksis di Malaka, oleh karena itu Malaka tidak hanya kumpulan gedung-gedung tua tetapi sejarah hidup sebuah kebudayaaan yang masih kental dan dijalankan oleh masyarakatnya.

Ketika Saya sampai di Malaka ada suatu hal yang membuat saya bingung. Malaka yang dikenal sebagai kota pelabuhan, seharusnya bangunan-bangunannya terletak di tepi pantai tetapi kenapa berada ditengah daratan. Ternyata kawasan pantai dikota tersebut sudah direklamasi besar-besaran. Kawasan tersebut telah menjadi bangunan mal dan gedung-gedung modern. Jadi kota tua Malaka telah dikelilingi oleh bangunan modern.

Namun pemerintah Malaysia cepat tersadar dari tidur panjangnya tentang pentingnya sejarah. Pemerintah Malaka pun dengan giat merevitalisasi aset-aset sejarah dan budaya yang dimilki.  Gedung-gedung pun direnovasi, sungai Malaka pun dibersihkan dan dijadikan pusat wisata yang menarik dengan adanya cruise melintasi sungai Malaka. Tentu saja upaya yang dilakukan pemerintah malaka tidak sia-sia karena Malaka telah menyandang status bergensi sebagai situs warisan dunia UNESCO. Seaandainya pemerintah Indonseia mampu berkaca kepada pemerintahan di negara sebelah, bahwa tidak ada kata terlambat untuk menyelamatkan aset-aset sejarah yang dimilki. Lebih baik sekarang atau tidak sama sekali. Atau kita sebagai anak bangsa harus puas melihat tergerusnya budaya warisan dan hilang ditelan zaman. Atau kita hanya berpangku tangan jika warisan budaya tersebut nantinya akan diklaim oleh masyrakat lain yang lebih peduli dengan warisan budaya tersebut.

DSCF9350

IMG_6325

IMG_6303

DSCF9750DSCF9666

21 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s