G30S Padang, #part5

Tidak ada setetes bensin pun yang dapat kami temukan. Harapanku dan pria yang kubajak motornya adalah dua SPBU  menjelang sampai kerumah. Kami berdua mendorong  motor dalam diam. Tak berniat bertanya dan tak nafsu pun menjawab meskipun ia bertanya. Ketika kami melewati sungai yang lebih dikenal dengan Bandar Kali oleh masyarakat Padang, ratusan orang menyebrang sambil menggandeng anak-anak mereka, memanggul barang-barang yang bisa dibawa bahkan juga mendorong sepeda motor mereka yang pastinya juga kehabisan bahan bakar.  Air sungai menyusut, sehingga orang-orang nekad untuk menyebranginya, karena seperti yang kubilang tadi jalan utama sudah macet total. Air sungai yang menyusut membuat hatiku semkin getir, apakah ini juga pertanda air laut sedang menyusut di panatai sana. Bukannya air pantai yang surut dengan cepat merupakan salah satu tanda akan terjadinya tsunami. Hatiku semakin getir saja.  Takut memuncak tak karuan.

Sumber gambar, klik disini

Sumber gambar, klik disini

Aku melewati reruntuhan gedung-gedung. Gedung bertingakat dua atau tiga yang berdiri kokoh,  sekarang runtuh meninggalkan puing-puing berserak. Bak manusia terkulai tanpa tenaga. Kengerian yang masih melekat dan menghantuiku hingga sekarang adalah lolongan , rintihan serta teriakan orang minta tolong ditimpa beton dan balok bangunan. Begitu pilu dan menyayat hati. Aku mendengar, itu sangat dekat dan menggetarkan hati. Aku hanya lewat tanpa daya membantu. Hati dan otakku pun sudah tak ditempatnya. Yang ada hanya bayangan orang-orang kucintai singgah kabur didalam memoriku. Lagian orang-orang yang terjebak itu tidak dapat juga dikeluarkan, yang berada disana itu pun punya alat apa untuk membongkar berat puluhan ton balok. Itu butuh crane atau loader untuk mengakat tiang-tiang  balok tersebut. Nihil tenaga manusia mengangkatnya. Yang menyayat hati lagi ketika aku lewat disebuah gedung yang beberapa kali dulu pernah kusinggahi, manusia-manusia yang selamat menggunakan martil dan palu memecah kerasnya tembok-tembok  untuk menyelamatkan manusia-manusia yang masih bersuara terhimpit reruntuhan. Masih ada harapan untuk hidup. Selalu ada secercah asa.

Di jalan yang kulalui penuh dengan serakan pecahan kaca dari reruntuhan gedung. Pria yang motornya kubajak menggiring motonrya sangat hati-hati, menghindari pecahan kaca yang dapat merobek benen sepeda motornya. Mesjid yang bisanya kulewati setiap hari ke kampus, itu pun rata -sama dengan  tanah. Rumah sakit umum kulihat hancur, sungguh nelangsa hatiku. Temapt orang-ornag mencari kesembuhan, yang gedungnya biasa berdiri kokoh pun ambruk. Aku tak kuasa lagi melihat.  Kukuatkan langkahku yang gontai.

Nihil bagi kami. Dua SPBU itu telah tutup. Tampaknya kekuatan gempa maha dahsayat telah mengghentikan geliat dan mengosongkan kota dalam hitungan menit saja. Kami tidak ada pilihan lagi. Mendorong motor. Setidaknya ditengah kekosongan, aku tidak sendiri, masih bersama dengan pria bermotor yang kubajak- tidak kukenal orang ini sama sekali..

“Uni, naik saja kemotor, kalau hanya sampai daerah rumah uni masih bisa jalan motornya” ia berkata sambil mencoba menghidupkan motornya lagi.

“baiklah”aku menjawab pasrah

Dengan residu bensin yang masih becokol, mesin motor masih bisa menyala. Masih diberikan kemudahan oleh Allah. Motornya  dipacu, tak bisa cepat memang, karena memang sudah rest.

Ketika aku samapi di jembatan dekat rumah,  hari sudah gelap. Tidak ada lampu. Secara otomatis memang, apabila ada gempa besar, lampu pun akan mati begitu juga saluran telekomunikasi. Mungkin sistem mati secara otomatis. Mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

iyo, uni turun disiko se, ndak jauh lai karumah, masuk jembatan tu” ¹ aku menunjukkan arah jembatan yang langsung menuju rumahku.

iyo uni” dia menghentikan motornya.

terimakasih, apo indak manunggu jo keluarga uni se, rumah adiak di Aia tawa, itu Cuma 1 km dari pantainyo. Pastilah mengungsi kasadonyo ka ateh” ² aku membujuknya untuk berkumpul bersama keluargaku.

tarimokasih uni, tapi awak harus basuo jo saudara

baiklah, kalo ado apo-apo, baliak se kamari, rumah uni diujung jalan itu, caliak se pohn jambu tu” ³aku menunjukkan rumahku.

Kuucapkan ribuan terimakasih pada pria yang kubajak motornya. Kuminta nomor telpon genggamnya. Kami pun berpamitan. Namanya pun lupa kutanyakan. Tak sempat kulihat ia hilang dari pandangan mataku. Karena aku langsung berlari menuju rumah. Berlari menemui  Aku juga tidak tahu apakah dirumah orang-orang yang kucintai masih ada disana???

Note:

*¹iya, uni turun disi saja, tidka jauh lagi untuk kerumah, masuk kejembatan itu?

*² terimakasih, apa tidak menunggu dengan keluarga uni saja, rumah adik kan di air tawar, hanya berjarak 1 km dari pantai. Pasti orang sudah mengungsi ke atas”

*³baiklah, kalau terjadi apa-apa, kamu kembali kemari, rumah uni di ujung jalan, itu di dekat pohon jambu”

Advertisements

One comment on “G30S Padang, #part5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s