G30S Padang, #part4

Aku berlari mengejar motor yang sedang berdiri  tersebut.  Ketika aku sampai mendekati motor tersebut, langsung saja aku naik di jok belakangnya. Ternyata si empunya tak jauh berdiri dari motor. Dengan bingung dia melihat kearahku. Belum sempat dia berbicara aku langsung berkata,

“Aku ikut kemana pun kamu pergi” aku langsung mencerocos tanpa henti.

Dia masih bingung dengan kehadirann gadis gila yang tiba-tiba melompat keatas motornya. Tapi situasi gawat darurat seperti saat ini pasti dia maklum. Aku sudah tidak peduli lagi. Aku tidak peduli dia berfikiran bahwa aku gila, perampok ataupun orang yang mendadak stress karena terkena guncangan gempa maha dahsyat tadi.

Image

Belum sempat dia berkata apa-apa. Aku malah bertanya.

“kamu sekarang menuju kearah mana?”

“saya kearah air tawar uni” jawabnya dengan  tenang.

Air tawar terletak beberapa km lagi setelah rumahku. Berati dia satu arah jalan denganku. Jadi aku bisa nebeng dengan dia untuk menuju kerumah. Ketika kami akan melewati jembatan Andalas aku memberi dia instruksi.

“kita lewat jalan utama saja, walaupun agak jauh, tapi masih bisa dilewati kendaraan bermotor, soalnya kalau kita lewat jalan memotong kearah kanan, pasti kita bakalan terjebak disana. Soalnya jalanannya sempit dan kecil. Jadi didalam situasi seprti ini lebih aman jalan utama” aku memerintahkan orang yang baru saja kubajak motornya.

“Iya uni, benar” jawabnya mengikuti petunjuku sebagai navigator.

Ketika kami sampai dijembatan andalas, dimana arah kekanan di tepi bandar yang biasa dijadikan jalan memotong, telah dipenuhi ratusan mobil yang terjebak ditengah kemacetan. Namanya juga manusia, walaupun telah diberikan peringatan, masih tetap egois. Setiap orang ingin menyelamatkan diri masing-masing. Malahan mengungsi dengan mobil bukan jalan yang terbaik. Malah makin memperparah keadaaan saja.  Memperburuk situasi.

Motor di pacu dengan cepat oleh orang yang baru saja kubajak. Namun tiba-tba motornya terseol-seol. Makin lambat dan lambat saja. Ini pertanda tidak baik.

 

“ada apa?”tanyaku padanya

“uni, motorku kehabisan bensin”

“apa?” terkejut aku mendengarkannya. Motor yang baru saja kubajak lima menit yang lalu adalah motor yang tidak berbensin. Apa dayaku. Maksud hati hendak cepat, tetapi sekarang terkendala dengan motor yang tidak berbensin. Ingin saja kutinggalkan pria bermotor yang baru saja kubajak, tetapi tak sampai hati meninggalkannya. Masa habis manis sepah dibuang.

Image

“ya sudah, kamu matikan motormu dan kita dorong.” Sekali lagi aku memerintahnya.

Akupun segera turun dari motor dan membantunya mendorong motor.

“kamu dorong motornya, saya akan coba tanya bensin ketengan yang masih buka.” Aku memerintah sekali lagi.

“siap uni” jawabnya padaku.

Aku pun sibuk berlari ke pingggiran jalan, mencari kios yang menjual bensin. Biasanya banyak kios bensin disekitar sini. Setiap penjual bensin ketengan yang kulalui telah kehabisan. Rupanya, arus kendaraan bermotor dari bawah telah menyikat habis bensin-bensin. Si pria bermotor yang kubajak sibuk mendorong motornya. Dan kuhampiri dia.

“tidak ada lagi bensin dikios-kios, kita harus mendorong motor ini” dengan nafas terseol-seol aku berkata padanya.

“Iya uni” jawabnya lagi

“Masih ada dua pompa bensin besar ketika menuju rumah sakit, mudah-mudahan kita masih mendapatkan bensin.” Ujarku menyemangatinya.

Ia pun mengaguk setuju. Aku pun mendorong motor bersama dia. Allahu Akbar ucapku penuh semangat………

Akankah aku menemukan bensin, perjalanan kerumah masih jauh!

Padang, 30 september 2009

Picture source

http://hdwallpapers.lt/complexion-face-tired-paint-abstract-hd-wallpaper-338007/

 http://www.michelkeck.com/Keck_Original_On_Paper_30_w_x_22_h_p/050612-tiredofpretend-original.htm

Advertisements

4 comments on “G30S Padang, #part4

  1. Degdegan aku bacanya. hwaaa belom ada lanjutannya ya Cil?
    Kadang aku sebel Palembang gak punya gunung dan pantai, namun karena itu pula Palembang relatif aman dari bencana alam. “Paling” juga air musi yang meluap. Tapi itu gak ada apa-apanya dibanding bencana Tsunami di aceh dulu.

    Temen2ku yang dari Padang juga cerita betapa paniknya saat itu. Haaa gak kebayang aku jadi Cicil yang kudu lari2 nurunin bukit dan bergerak menuju daerah pantai. Astagfirullah…

    Semoga gak ada lagi bencana seperti itu di Indonesia ya amin.

    • masih ada sambunganya kak, soalnya bakalan ada karakter baru dicerita selanjutnya, ditungguin ya :), soalnya sblum kejadian ada pertanda-pertanda juga…duh aku kalau ingetnya jadi deg-degan juga. ini pengalaman yang ngak bisa terlupakan, pastia ada yang nanyain terus, jadi daripda lupa memang mending ditulis aja:D,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s