G30S Padang, #part2

Aku berdoa semoga kendaraan umum yang kunaiki ini melaju dengan cepat. Kuperhatikan jalur kendaraan di arah yang berlawanan, tampak kontras sekali. Telah terjadi kemacetan Maha dahsyat Bunyi klason yang silih berganti tiada henti untuk kendaraan yang menuju keatas. Diarah sebaliknya, kendaraan menuju arah kebawah tidak ada kendala sama sekali. Memang tidak banyak orang yang mau kebawah dalam situasi seperti ini. Semua orang akan berbondong-bondong menuju ketempat yang lebih tinggi. Yang mereka takutkan tidak hanya gempa maha dahsyat tetapi efek setelah ini. Mereka takut lautan akan mengamuk dan memuntahkan airnya ke daratan. Belajar dari gempa Aceh sebelumnya, yang mematikan itu adalah tsunami yang datang setelah gempa besar. Makanya semua warga di Padang juga panik dan kelimpungan. Kendaraan yang kunaiki kurang dari 2 km terhenti oleh macet, karena jalur yang awalnya untuk menuju kebawah, telah tertutup oleh kendaraan yang ingin bergerak keatas. Jalur telah diambil alih satu arah, semua orang yang dari bawah langsung memacu kendaraan mereka untuk mencari tempat perlindungan ke tempat yang lebih tinggi.

10664883-car-traffic-jam

indak bisa oto kabawah lai ni, awak lah terjebak disiko*” sahut Pak supir. Urunglah niat Pak supir untuk merogoh sedikit rezeki dari musibah. Karena memang kendaraannya sudah tidak bisa lagi untuk melaju. Kendaraannya telah dikepung oleh massa kendaraan yang akan melaju keatas.

Pak, awak turun disiko se*!” kataku dengan sigap memeberikan ongkos dan keluar secepat kilat dari kendaraaan.

Namun, Akupun sudah tak bisa lagi keluar dari kendaraan. Karena ribuan sepeda motor telah mengepung. Kulihat teman dekatku Tasya dengan Mamanya sedang mendorong motor, karena percuma saja pakai bensin.

“Ci, langsung keatas saja” kata Tasya dan Mamanya.

“Ci harus pastikan keadaan dibawah Sya,!” sahutku, tidak mempedulikan anjuran dia untuk bergerak keatas. Karena yang ada dipikiranku saat itu hanyalah keluargaku.

“dibawah kacau Ci, sudah tidak ada lagi, kami baru saja dari bawah!”bujuk mama tasya

“terimakasi tante, Ci tak tenang kalau tak temukan Mama,ci harus kebawah”

“hati-hati, doa kami menyertaimu” Kami pun berpelukan, mungkin itu pelukan terakhir bagi kami. Apakah hari esok akan ada. Hanya kelabu yang ada disore itu.

7083-7328445-7

Dengan semangat kuayunkan kakiku secepat kilat. Aku berjalan secepat mungkin. Kuselingi dengan lari. Untung hari itu aku memakai sneaker. Aku berjalan sendiri, seorang diri. Tidak ada rombongan kebawah yang berajalan yang kutemui. Yang ada hanya rombongan yang akan keatas. Ingin aku menghentikan laju kendaraan. Tetapi mereka bepacu bak kesetanan. Motor-motor lewat melaju pesat bak halilintar. Bagaimana caranya aku menghentikan meereka. Tidak  ada satupun yang lambat pada sore itu, waktu berputar sangat cepat sekali. Masih sekiatr 10 km lagi untuk menuju kerumah. Kupacu terus langkah kakiku. Aku tak peduli. Dijalanan kulihat bangunan ambruk, hancur dan luluh lantak. Kulihat orang-orang berdiri diatap rumah dan ditempat paling  tinggi dibagian rumah, secara naluri menyelamatkan diri kegedung yang paling tinggi.

Ketika aku berjalan aku melihat sosok yang sangat kukenali. Aku megenal lelaki tambun itu. Dia adalah kawanku di kampus. Rajesh Mohender namanya. Aku masih sadar dan mengenali dia dengan rambut kribonya. Ketika bertemu dengannya langsung kupegang tangannya. Aku serasa mau jatuh dan pingsan. Tetapi aku tidak boleh, aku masih harus berjalan kebawah, masih harus menemui orang-orang yang kusayang dengan mata kusendiri. Aku tahu batin ku tidak akan pernah bisa menerima kalau aku hanya menuggu diatas dan tidak melakukan apa-apa. Terbayang olehku wajah Mama yang pagi ini kutemui, yang kugengam tangannya sebelum kekampus. Kulihat wajah Papaku, walaupun kami tidak pernah akur, aku tahu bahwasanya aku ada karena dia.  Sebencinya aku pada sifat Papa ku, aku ingat beliau lah yang memberikan aku kehidupan kedua. Menyelamatkan nyawaku ketika aku tenggelam diarus sungai, dimana semua terpaku melihat aku tenggelam. Mereka pikir itu hanya sebatas kain yang terhanyut oleh arus sungai. Hanya papaku yang dengan berani menyelamatkanku. Berenang melawan arus hanya untuk menggengam tanganku kembali. Ingat aku semua kesalahan yang kulakuakan, ingat aku kalau aku pernah menyakiti Mama dan Papaku, ingat aku kalau aku belum menjadi apa-apa untuk membanggakan mereka . wajah kedua orang tuaku lah yang terbayang di ingatanku. Adik kecil perempuan ku satu-satunya, adik yang selalu membelaku, adik yang selalu mengejar orang yang ingin menjahiliku, adik yang tidak pernah terpisahkan dariku. Wajah-wajah orang yang kucinta membuatku semakin kuat untuk berjalan.

“Mbak, jangan kebawah, Pasar Raya kebakaran, kami baru dari sana” Rajesh memberikan peringatan keras, bahwa dibawah sudah mengalami kerusakan yang parah, kebakaran yang hebat.

Tapi…………

Padang, in memori of 30 september 2009

Note:

*Tidak bisa kebawah lagi, mbak. Kita sudah terjebak disini

*Pak, saya turun disini/saya berhenti disini!

Picture source:

http://www.123rf.com/photo_10664883_car-traffic-jam.html

http://www.saatchionline.com/art/Painting-Traffic-Jam/7083/1208427/view

Advertisements

2 comments on “G30S Padang, #part2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s