G30S Padang part #1

Aku menorehkan tulisan ini, mengembalikan puing-puing ingatan tentang gempa maha dahsyat yang pernah melanda negeriku, sumatera Barat. Kutuliskan bukan sekedar mengingat, aku ingin agar setiap yang kulalui tidak akan terhapus dari ingatanku yang setiap hari bertambah isinya namun berkurang dalam mengingat. Aku tidak ingin kenangan ini menghilang begitu saja, karena pada masa-masa sulit ini aku bertemu orang baik, yang saling bahu membahu tolong menolong diantara puing-puing reruntuhan. Ingin kupatri sendiri apa yang kulalui.

Kembali kepada ingatan hari itu pada tanggal 30 sepetember 2009. Siang itu aku mampir ke kosan Rama, karib akrab sepergaulan. Dia baru saja selesai liburan dan baru tiba hari itu dari Jakarta, dari rumah orangtuanya. Aku bercerita tentang seseorang yang kunantikan akan datang pada bulan oktober depannya. Seseorang yang mewakili hidupku semenjak beberapa tahun belakangan. Buncah kegembiraan tak dapat kusembunyikan dari wajah. Merona terus pipi rasanya bak bunga-bunga yang  mulai merekah dimusim semi. Pada rama lah dapat kuberselorah mengenai rasa yang ada dihati dan dia yang memahami aku, mungkin latar belakang hubungannya memiilki kisah yang sama padaku. Tak pernah sedikitpun dia menjudge hubungan ku dengan kekasih yang jauh diseberang lautan sana. Terpisah dimensi ruang dan waktu.

“Rama, baru saja siang ini, aku kirimkan email padanya, ittenary dia selama di Indonesia!” senyumku pada Rama menghias bibirku.

Sambil tidur-tiduran di tempat tidur yang khas aroma tubuhnya. Dia selalu malas kalau aku tidur-tiduran disana. Karena alasan kesibukan yang memuncak, tak pernah dia sempat menjemur kasurnya barang sebentar diterik matahari. Tapi aku tetap suka disana, di kasur lepek itu. Dikala itu diselingi curahan hati, kami bercengkerama tentang dunia, asa-asa dimasa muda untuk menyelesaikan kuliah segera, menjadi kebanggan kedua orang tua, dan tidak pernah kami menyinggung tentang apa itu pernikahan. Yang pasti kami selalu bertukar informasi bagaimana cara menghilangkan sedikit lemak-lemak yang menyempil disela-sela lengan, paha, dan perut kami. Pasti ada-ada saja yang kami perdebatkan, mungkin sesekali bertaruh siapa yang akan memakai baju seksi hitam yang entah kapan akan bercokol pas dibadan kami. Entah samapi detik ini pun kami masih membahas topik yang sama, tak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya kami berkenalan. Mungkin kami dipertemukan agar selalu saling mendukung dan cinta tubuh kami. Kami bisa dikatakan akrab berkarib, bak kawan  kopi dan susu. Semakin dipadu semakin pas rasanya. Kopi yang pahit dan susu yang manis. Corak dan perawakan kami pun tak kalah berbeda sepert kopi dan susu.

Hari itu ditanggal 30 September, dia masih sibuk bermain game house, kerajingan game, seperti  jutaan anak kuliah lainnya. Aku tidak suka, tetapi sesekali kucoba juga, ketika dia agak lama dikamar mandi untuk buang air besar.

 Goncangan itu terasa, terasa semakin kuat, dan semakin kuat. Goncangan itu menghentakan, bergemuruh dan bersuara. Sekian detik dan itu kami tahu gempa. Gempa atau guncangan yang telah akrab bagi kami penduduk yang tinggal di Padang.  Tetapi guncangan ini lebih dahsyat dari gempa-gempa sebelumnya.

“Gempa,”kata Rama

“iya, ayo keluar” seru ku beranajak dari kasur lepeknya.

Image

Kamar kosannya di bagian depan, jadi tak butuh waktu lama untuk sampai kedepan. Tetapi guncangan gempa maha dahsyat itu membuat kami sempoyongan seprti orang yang telah meneguk beberapa gelas wiski. Masih ingat ketika itu, kami tak berdiri, kami duduk ditanah, berdua dan berdekapan, , karena guncangan gempa sangat kuat sekali. Rama dan beberapa teman kosan lainnya kelur memeluk laptopnya, salah stau barang berhrg yang dipunyai anak kos-kosn ketik itu. Kalau rama ketika itu memang sedang main game, jadi itu adalah hal yang cepat diraihnya ketika keluar. Puluhan ornag disekitar rumahnya keluar saling melafadskan takbir. Banyak diantara kami yang tidak percaya dengan apa yang terjadi. Semakin kuat guncangan, semakin kuat lafads takbir yang kami panjatkan.

Itulah gempa Bumi di sumatera Barat dengan kekuatan besar dari 7,6 Skala Richter di lepas pantai Sumatera Barat  tepat pada pukul 17:16:10 WIB tanggal 30 September 2009. Gempa laut di kota Padang yang terjadi disekitar 50 km barat laut Kota Padang.

Refleks langsung aku mencoba menelpon adik dan kedua orang tuaku, rumah kami tak kurang dari 2 km dari pantai. Perasaan didadaku membuncah, aku khawatir sampai keubun-ubun. Sinyal telpon langsung mati. Aku bingung tak tahu harus apa, aku sadar jika guncangan di tempat ku sekarang saja di Universitas Limau Manis sngat kuat, yang  berjarak sekitar 14 km dari pantai. Aku tahu bahwa didaerah rumahku akan sangat parah dan lebih terasa lagi. Aku mengambil tas dan memasang sepatu. Aku ingin segera pulang memastikan keadan mereka, keadaan keluarga tercintaku. Rama mencoba menahan ku, memberikan logika, bahwa pastinya apa yang ditakutkan warga Padang bukan hanya gempa besar tetapi tsunami yang maha dahsyat yang akan melanda kota. Bayangan film-film akhir masa langsung meluncur diingatanku.semakin mencekam otakku.

“ci, keluarga lo pasti juga akan mengungsi kedaerah atas(Unand)*” terangnya padaku

“gw tau ram, tapi hati gw ngak tenang kalau gw menunggu disini, gw harus temuin keluarga gw!” kataku pada Rama, air mata pun tak beruarai saat itu.

Dia mengunci pintu kosannya segara. Dan mengantarku mencari kendaraan umum untuk balik kerumah. Kearah bawah, kearah pantai, kearah rumah. Ketika kami sudah dijalan besar, sudah terjadi kemacetan yang sangat parah, bunyi sirene yang meraung-raung, dan kemacetan kendaraan yang menuju ke daerah atas. Tak satupun kendaran yang kebawah kutemui. Tak selang lama berjalan, aku naiki sebuah angkot. Kupeluk Rama hari itu lebih erat dari biasanya,

“Lo jaga diri,” kata Rama padaku dengan beruari air mata. Seperti mengantar pejuang menemui ajalnya.

 Aku tak menyahut. Tak menangis seperti Rama. Aku lepas pelukannya segera dan naik angkot. Angkotku melaju dan tak kupandangi lagi Rama. Karena otakku sedang berkecamuk tentang orang-orang yang masih berada dibawah, yang masih berada didaerah rawan tsunami. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan negeriku. Aku hanya berdoa agar mereka yang kusanyangi dibawah baik-baik saja. Ya Allah, cepatkanlah kendaraan ini melaju……. bersambung

 picture: http://yanottamidumanauw.wordpress.com/?attachment_id=128#main

Advertisements

4 comments on “G30S Padang part #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s