Solo Travelling ke Tangkuban Perahu#nekad traveler

Mulaiah di suatu pagi itu aku berpetualang seorang diri ke Tangkuban Perahu. Terinspirasi dari legenda Sangkuriang dan Dayang  Sumbi.  Ingin sekali aku menikmati keindahan kawah, konon berasal dari perahu yang ditendang Sangkuriang karena marah tidak bisa menyelesaikan permintaan Dayang Sumbi. Disaat fajar menyingsing aku sudah bangun dan bersiap-siap untuk kesana. Botol air minum, kamera, dan petunjuk jalan untuk kesana sudah kupersiapkan dari hasil berselancar menggunakan Telkom Flash semalam.

Sampai di Tangkuban Perahu, aku takjub akan pemandangan yang begitu indah. Udara dingin menyelimuti ditambah bau belerang yang menusuk. Dimana-mana aku perhatikan banyak orang yang datang bersama rombongan dan keluarga mereka. Memang untuk liburan, pergi bersama-sama adalah pilihan yang menyenangkan. Segala upaya dilakukan agar sepupuku juga ikut. Sebenarnya pun dia belum pernah kesini, tetapi memang dasar tidak suka jalan-jalan, makanya diajak pergi pun ogah.

Image

Aku berjalan menyusuri  kawah sendirian. Setelah jeprat-jepret mengabadikan keindahan alam. Aku pun tak luput berfoto mengabadikan diri. Alih-alih menenangkan diri sambil menikmati indahnya pemandangan dibalut sejuknya udara, aku selalu dijadikan sasaran sebagai fotografer dadakan untuk mengabadikan foto mereka bersama-sama. Aku pun berjalan agak menjauh dan masuk kesebuah kedai yang menyajikan badrek didalam bambu. Sangat pas sekali rasanya.  Kemudian kakiku berjalan lagi tanpa arah tujuan, dan berhenti ketika aku disapa oleh seorang wanita paruh baya dan seorang lelaki disampingnya.

“Mau  kemana Neng?” tanyanya ramah padaku

“Mau jalan-jalan aja, Bu” jawabku sopan

“Mau jalan-jalan kemana, neng?” tanya nya lagi padaku

“Tidak tahu, Buk. Cuma mengikuti kemana kaki melangkah” aku tersenyum padanya.

“Neng, mau ikut sama Ibuk, kami mau naik keatas, mau naik  kegua!” Ia menawarkan aku untuk ikut bersamanya.

“gua apa bu?” jawabu setengah tertarik.

“ada gua diatas dana ada pemandian” terangnya singkat.

Karena ini kali pertama aku ke Tangkuban Perahu, tidak ada salahnya untuk ikut menyisiri gua bersama Ibuk yang telah  berbaik hati mengajakku.  Akhirnya kami berangkat mendaki untuk menuju gua yang terletak diatas. Kami berempat; Bapak yang bersama Ibuk, Ibu paruh  baya, Bapak si penunjuk jalan dan aku. Kubantu Ibuk tersebut membawa barangnya. Pikirku didalam hati banyak juga bawaan Ibuk dan bapak tersebut, mungkin itu berupa baju ganti, karena tadi ibuk memberitahukan tentanga adanya pemandian. Mereka memang pergi mandi-mandi.

Medannyanya tidaklah terlalu sulit, tapi udaranya memang lebih dingin dibandingkan dikawah. Aku benar-benar tidak tahu akan dibawa kemana. Agak licin jalanannya memang, karena semalam hujan turun membasahi bumi. Aku lebih fokus untuk menapaki jalanan, karena tidak mau terpeleset. Aku salut juga walaupun telah separuh baya, mereka tetap tangguh. Sesampai diatas aku mengirimkan pesan melalui whatsup Sangat penting untuk memberi update an status dimana aku berada. Kupilih TELKOMSEL, karna jaringannya tersebar luas dinusantara.

Sesampai diatas si Ibuk bersuci, membersihkan diri dipemandian. Setelah itu, Si bapak penunjuk jalan menggiring kami ke gua dengan senter. Membawa peralatan didalam sebuah kantong plastik. Tak lama berjalan didalam gua sekitar 20 menitan. Bapak penunjuk jalan masuk kebagian badan gua yang agak menjorok kedalam. Dia membentangkan  plastik. Aku agak terkejut melihat peralatan yang berada didepannya. Dupa, bunga, dan kemenyan. Ini sebuah persemedian atau meminta wangsit, perdukunan, entahlah akupun tak tahu namanya. Bulu kudukku merinding. Karena aku tidak tahu apa yang akan si Bapak penujuk jalan lakukan, dan si Ibuk paruh baya lakukan. Aku diam saja seribu bahasa. Si Bapak menyuruhku mengikuti dia, akupun duduk bersila disebelah si Ibuk paruh baya. Dapat kurasakan dingin lantai dan bau lempap yang membekapku. Aku tidak punya pilihan lain selain duduk bersama mereka, aku tidak punya senter untuk kembali lagi kemulut gua. Aku tidak ada pilihan.

Aku mengikuti si Bapak penunjuk jalan yang memanjatkan doa dan melakukuan ritual. Aku diminta mengikuti mereka, ketika tangan mereka menegadah akupun ikut, mulut mereka komat kamit, aku pun ikut, tanpa ada satu kata pun yang aku mengerti. Si Bapak penunjuk jalan menyebutkan nama-nama orang yang hanya pernah kubaca didalam buku sejarah. Mulai dari dayang sumbi samapi raja-raja majapahit namanya pun didperdendangkan. Aku menelan ludah. Ada hawa ketakutan yang menjalar disekeliling tubuhku. Aku teringat film-film misteri yang pernah kutonton, aroma kemenyan dan bau dupa pun menyeruak disekelilingiku. Gemetaran mati ketakutan diriku.

Si ibuk paruh baya mengeluarkan sebuah foto didalam tas yang ditentengnya dari tadi. Dengan jelas kudengar ibuk meminta agar orang yang didalam foto itu jatuh hati pada nama yang disebutkannya. Inikah Budaya magis yang masih menyelimuti masyarakat, dan itu masih nyata. Aku menjadi saksi bisu bahwa acara meminta wangsit, ataupun enteng jodoh dengan mengantarkan sesajian. Si bapak penujuk jalan yang ternyata merangkap sebagai dukun alias paranormal ataupun sesepuh kembali berkomat kamit dengan meletakkan photo dihadapannya. Aku tidak menoleh sedikitpun untuk meliha apa yang dilakukan dengan foto tersebut. Aku semkin takut karena suara-suara kelewar dan tetesan air terdengar sangat jelas. Kudengar ada orang berbisik-bisik. Yang pasti itu bukan aku, ataupun si bapak penujuk jalan atau si ibuk paruh baya. Aku pun tidak yakin apakaha ada orang selain kami yang masuk ke dalam gua. Aku mulai berdoa didalam hati, memohon perlindungan kepada Allah, Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Kalau saat itu aku diculik atau dijadikan tumbal, mungkin tidak ada yang tahu, tapi aku bersyukur, karena tadi masih sempat mengirimkan pesan kepada teman kalau aku berada di Tangkuban Perahu. Aku pikir jika aku tidak kembali, pasti mereka bakal menemukanku berbekal pesan terkhir ketika chatting tadi.

Si bapak penujuk jalan menanyakan namaku, dan menebak umurku. Dia menengadahkan tangan dan berkomat kamit kembali, dia mengambil segengaam bunga. Dan menyerahknnya ketangan ku.

“bunga ini untuk neng, neng simpan didalam dompet, Bapak mendoakan semoga Neng betemu segera dengan jodohnya, menjadi anak yang berbakti kepada ibu bapaknya, semoga pekerjaan neng juga lancar dan dalam lindungan-Nya”. Si bapak menyerahan bunga berwarna putih yang dari wanginya aku tahu itu pasti bunga melati.  Bulu kuduku semakin merinding saja. Kuaminkan doa si bapak penunjuk jalan tadi, tidak mungkin aku tolak ketika ada orang yang berdoa demi kebaikan kita. Ritual yang dilakukan sibapak penujuk jalan dan si ibu paruh baya terasa sangat lama. Aku pun bisa mendengar suara detak jantungku yang berdetak kencang tak karuan karena ketakutan.

Setelah menyelesaikan ritual didalam gua, si bapak penujuk jaan berkemas diikuti si ibu paruh baya dan aku dibelakangnnya. Aku bersyukur dan lega sekali, akhirnya aku bisa keluar dari gua yang sempit dan pengap itu. Kulihat barang-barang bawaaan yang banyak tadi yang kukira perlengakapan mandi, ternyata itu buah-buahan seprti pisang, jeruk dan mungkin banyak yang lainya, karena tertutup didalam karton, ternyata sengaja ditinggal sebagai sesajian. Si ibuk menyuruhku mandi menggunaran air gunung, katanya mensucikan, aku menolak dengan berbagai alasan. Bagiku air bersih, jernih dan tidak berbau memang mensucikan, tetapi lebih dari itu. Karena air yang bersumber langsung dari gunung, sangat dingin sekali jangankan untuk mandi, mencuci kaki pas sampai karena becekan tanah sudah menmbuat tubuhku menggigil.

Image

Ini mungkin salah satu hal ternekad yang pernah aku lakukan, ikut pergi jalan dengan orang lain yang kutemui dikaki gunung. Bisa saja aku dijadikan tumbal, diculik ataupun dimutilasi. Tetapi didalam setiap langkah perjalananku, aku selalu berdoa kepada Allah supaya melindungiku. Walaupun nekad, aku tetap tidka pernah luput untuk memberitahu posisi terakhirku kepada teman ataupun adikku, sehingga walaupun dijalan, orang-orang yang kusayangi tidak teralu cemas denganku. Untung saja ketika di jalan selalu sia dnegan kuota paket internet dari TELKOMSEL Flash.

Bandung, 22 November 2012

note:ketika kembali ke Padang, hp ku hilang. foto-foto hasil perjalanan hilang tidka berbekas. foto diatas diambil dari foto yang pernah diupload di facebook ketika berada di jalan. thanks for telkomsel flash, because of the internet connection, i still have some pics to upload for my story.

Mau tahu perjalanan nekad lainya, just check it out here:

telkomsel.com/nekadtraveler

dan check juga video duo nekad traveler

http://internet.telkomsel.com/nekadtraveler/terms/tsel.me/TVCNekadTraveler

Advertisements

9 comments on “Solo Travelling ke Tangkuban Perahu#nekad traveler

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s