Soto Tangkar & Soto Daging Sapi

Mbak Magda memarkirkan mobilnya di sebuah jalan yang tidak terlalu lebar. Setidaknya dua mobil dapat dilewati, asalkan mobil yang satu parkir agak ketepi. Aku terpaksa keluar, untuk memberi arahan parkir karena memang jalannya begitu sempit. Setelah parkir Mbak Magda menggiringku ke sebuah tempat makan. Agak heran aku memandang tempatnya, tak seperti biasa, Mbak Magda membawaku kemari. Dinding-dinding yang temboknya berwarna sudah usang dan kecoklatan pekat bak telah terpanggang api. Cuma terdapat kurang lebih empat sampai lima meja panjang kayu dengan bangku-bangku plastik.

“Ini soto tangkar langganan bapakku, sejak aku masih kecil sering diajak kemari” bisik Mbak Magda kepadaku.

Aku hanya menggaguk datar, karena masih tidak percaya dengan tampilan tempat yang kulihat. Mungkin ini baru kali pertama dia mengajakku ketempat makan dengan tampilan yang tidak begitu bergairah. Dibagian luarnya ada sate ayam dengan kuah kacang. Di  bagian dalam nya ada soto tangkar dan soto daging sapi khas betawi dengan beragam peralatan yang juga sudah tampak tua dengan pikulan. Serta centong-centong besar yang berisi kuah soto.

Image

Mbak Magda memesan sate ayam dengan kuah kacang. Satu tusuknya saja Rp. 4000,-. Cukup mahal untuk satu potong tusuk sate dan tempat seperti ini. Ah, aku jadi penasaran. Tapi karena aku puasa aku hanya bertanya dalam hati, seperti apakah rasanya. Dari tampilannya saja, kuah kacang sangat pekat dan tak pelit kecap.

 Lagi-lagi Mbak Magda berbisik padaku, “Ini daging ayamnya benar-benar daging, ngak dipake embel-embel yang lain” Mbak Magda menunjukkan potongan daging cukup besar dan gemuk untuk satu tusukan.  Lagi-lagi aku hanya mengaguk, maklum energi ku tidak begitu banyak hari itu, setelah perjuangan yang cukup berat menempuh macetnya ibukota.

Image

Mbak Magda memesankan porsi satu porsi soto untuk kucoba dirumah untuk berbuka puasa nanti. Satu porsi sotonya seharga Rp. 25.000,-. Dia meminta untuk potongan daging saja, tidak usah tetelan. Bagaimanapun juga, kami telah bertekad untuk mengurangi makanan yang memicu kolestrol dan tekanan darah tinggi. 

Karena tidak seperti ditempat makan lain, dimana si empunya akan berlomba-lomba memilki pramusaji yang cantik ataupun gagah serta sedap dipandang mata. Tapi disini kami dilayani oleh pramusaji yang sudah lewat paruh baya. Agak takjub saja aku melihatnya. Seperti biasa, naluri penasaranku terus berkembang. Aku pun mulai bertanya kepada pemiliknya,

“Pak, ini nama tempat makannya apa ya?” aku menilik ingin tahu, karena aku sibuk mencari plang nama tempat makan ini

“Tidak ada namanya, neng, Cuma soto tangkar  dan soto daging sapi” ujar Bapak berpeci tua itu.

Salah satu bapak yang juga ikut melayani, mengatakan padaku

“Ngak ada namanya mbak, tapi orang pada tahu kok, sebut saja soto tangkar tanah tinggi,” dia memberikan robekan kertas bon yang ada alamatnya.

“Sejak tahun berapa Pak, usahanya dimulai” kan rasa penasarannku tidak bisa dibendung.

“wah sudah lama ini, Neng, Mungkin sudah semenjak tahun 50an,   tempat ini sudah tiga kali ganti generasi, dan tiga kali ganti tempat. Dahulunya di pokokan sana di perempatan jalan tanah tinggi didepan SD Paskalis sampai tahun 1990-an, menggunakan tenda dan pikulan tempat meracik soto serta kursi panjang yang dirapikan setelah berjualan. Kemudian pindah ke pojokan situ, sekitar tahun 200an, menyewa bangunan permanen di Jalan Tanah Tinggi III/25. Sayang itu tidak lama, Cuma selama 7 tahun, karena tempatnya disewa oleh sebuah parpol untuk dijadikan kantor. Nah, sampai akhirnya pindah kemari tahun 2007 samapi sekarang, ” si bapak memberi penjelasan dengan gerakan tangan menunjukkan sekitar lokasi-lokasi tempat sate ini pernah mangkal.

“ wah sudah lama sekali ya, Pak” aku mengaguk mengerti dan kagum dengan keeksistensian tempat seperti ini.

Soto Tangkar dan Soto Daging Sapi ini sudah ada setahun setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1946. Dimulai oleh H. Ikhsan, yang kemudian dilanjutkan oleh keponakannya H. Hasan.  Sudah 67 tahun semenjak Republik ini berdiri, dan rasanya pun tetap konstan karena diracik sendiri dengan kaya bumbu dan menjadi tempat nostalgia bagi banyak orang. Soto pun dipertahankan dimasak dengan cara tradisional menggunakan kayu yang membuat kuah soto semakin harum. Makan soto ditambah dengan acar, sambal dan guyuran air jeruk limau yang membuat soto semakin segar.

Tempat ini dibuka mulai dari hari senin sampai minggu mulai dari jam 11.00 WIB sampai 19.00.  Pada hari biasa ramai didatangi ornag kantoran dan setiap weekend juga semakin ramai karena banyak dikunjungi rombongan keluarga. Setiap harinya lebih kurang 20 kg daging sapi disediakan untuk memenuhi permintaan konsumen, tak ketinggalan jeroan yang diolah tidak sebanyak daging, seperti paru, babat, lidah, usus, kikil. Sengaja disedakan tidak sebanyak daging, karena si pemilik juga mengutamakan kesehatan. Rahasia dari soto tangkar terdapat pada racikan bumbu seperti kunyit, bawang putih, bawang merah, udang kering, dan terasi yang ditumbuk kemudian ditumis sampai harum. Selesai ditumis bumbu tersebut dimasukan ke kuah santan yang sudah terlebih dahulu dipanaskan, kemudian tinggal memasukkan bahan utama di antaranya daging sapi,usus, babat, paru, kikil, tulang muda, dan tulang rawan.

Image

“Ini soto langganan Fauzi Bowo, Neng” ujar Bapak itu bangga.

Aku mengaguk mengerti, ternyata tempat ini menjadi favorit orang yang pernah menjadi top nomor satu di Jakarta itu.

“Kami setidaknya dua kali mengikuti undnagan besar dari pemerintah,acara waibi tahunan di Monas atau di Kemayoran seperti PRJ kemaren” kata si empunya bangga dan tersenyum sumringah.

Aku juga tersenyum bangga dan mengaguk-angguk semakin tahu.

Mbak Magda mengatakan kalau tempat ini adalah salah satu tempat yang legend di Jakarta, dia mulai makan semenjak masih kecil bersama sang Ayah. Tempat favorit makan mereka. Setiap makan siang tempat makan ini selalu ramai. Dan ini salah satu tempat makan yang harganya masih masuk akal dan tetap enak( harga 25.000,- dengan potongan daging yang lumayan besar, tapi porsinya kecil sekali). Yang datang pun kebanyakan pekerja kantoran dan pesanan instansi pemerintah sampai pejabat negara. Mobil- mobil yang parkir pun akan membuat anda kecele dan tidak percaya. Aku jadi tidak sabaran untuk samapi dirumah ketika bedug berbuka puasa dan menyantap soto tangkar tersebut. Wanginya yang harum, dan biar aku tahu lezatnya akan seperti apa.

Lebak Bulus, 25 July 2013

Lokasi: Soto Tangkar & Soto Daging Sapi

Jalan Tanah Tinggi III No. 54, Senen Jakarta Pusat

 

 

Advertisements

2 comments on “Soto Tangkar & Soto Daging Sapi

  1. hmmm….patut dicoba nih….pastinya lebih enak dr pada yg di pinggir kali ya ci..hehehe…sate ayamnya juga pasti lebih enak dari yang di univ bendungan hilir..hahahahahha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s