Mainan dan Korupsi

Setiap anak-anak memiliki mainan favoritnya. Ada satu kutipan yang menarik dari sebuah  blog yang dimilik M Aan Mansyur mengenai mainan, hal itu dipaparkan oleh seorang photographer yang bernama Galimberti yang mengadakan perjalanan keseluruh dunia untuk memotret anak-anak dengan mainan kesayangan mereka. Ada suatu fakta yang didapatkannya bahwa anak-anak orang kaya jauh lebih posessif dan protektif terhadapa mainannya dibandingkan dengan keluarga miskin. Anak-anak dari keluarga miskin tidak keberatan ketika sang photographer mencoba menyentuh mainan mereka, dan mereka lebih mudah berbagi walupun mereka cuma mempnuyai satu atau dua mainan. Hal itu sangat berbeda dengan anak-anak dari keluarga kaya yang lebih protektif melindungi mainan mereka, mereka lebih susah percaya kepada ornag lain. Dan cendrung mengangap orang lain sebagai musuh yang akan merebut mainan bahkan merusak mainan mereka.

—————————–00—————————–

Cuplikan diatas menginspirasikan saya untuk menuangkan sebuah cerita  tentang  kejadian di masa kecil. Disaat teman-teman lain mampu memilki boneka Barbie dan Ken serta miniature rumah impian, nitendo, tamagochi, Playsatation 1, tamia atau  mainan mahal lainnya. Aku hanya bermain dengan boneka beruang lusuh, atau bongkar pasang yaitu boneka-boneka kertas yang baju-bajunya bisa dibongkar pasang dengan baju kertas yang lain (mungkin ini Barbie kw kesekian) atau majalah-majalah serta buku-buku bekas yang dibelikan Bunda di Pasar loak.

“Ayah kenapa tidak membeli kan aku Barbie seperti teman-teman yang lain?” pinta ku ketika melihat Ayah sedang berada di kolam.

“Kakak, kan sudah ada mainan yang lain untuk digunkan” kata Ayah yang memanggilku dengan sebutan sayang kakak karena aku anak pertama, tetapi ia tetap tak menghiraukanku karena sibuk memberikan makan lele-lele di kolamnya.

“Tapi itu tidak seperti Barbie, yang lebih nyata Ayah, dan rumah Barbie dan Ken lebih bagus daripada rumah kita, Kenapa kita tidak beli mobil seperti Ken ayah?” bujukku polos.

“Ayah tidak punya cukup uang, sayang. Dan motor kita sudah cukup membantu untuk membawa Ayah kekantor, serta mengajak Bunda dan kamu untuk berjalan-jalan sore” jelas Ayah yang aku ikuti terus kemana ia pergi setelah dari kolam.

“Tapi kan tidak seru Ayah, kita kepanasan dan kehujanan” aku mengeluh dan menirukan gerakan orang yang lagi kepanasan.

“Iya… namun, ketika hujan kita bisa berhenti di warung, dan menikmati pisang goreng dan  ketika panas kita akan berhenti di dekat sungai, dan berenang barang sejenak” ayah mulai merangkulku dan mengajakku duduk dipangkuannya.

“Kenapa Ayah tidak mencari banyak uang…uang yang banyak sekali” aku menggunakan kedua tangan kecilku melengkungak keatas mebuat sebuah lingakaran yang sangat besar.

“Haha ha” Ayah hanya tertawa kecil dan mecubit pipiku manja.

“Ayah Nakal menertawakan ku” bujukku manja, dan beringsut untuk duduk dipangkuannya lagi.

 “Ayah kenapa tidak korupsi saja, biar kita punya uang ynag banyak, rumah yang bagus, mobil yang keren seperti orangtua temanku, dan aku bisa punya Barbie yang banyak” aku mengeluarkan sebuah kata korupsi yang hanya pernah aku dengar bersama teman-teman tanpa mengetahui makna dibalik kata itu sebenarnya. Dan masih begitu jelas bagaimana Ayah menanggapiku.

Ayah tersenyum simpul padaku “ Anakku, apa yang akan Ayah korupsi dikantor, selain mesin tik tua dan bangku-bangku usang yang menemani Ayah dikantor”.

“Hidup tidak hanya untuk mengumpukan uang yang banyak, sayang. Hidup menjalani apa yang kamu suka, hidup bahagia untuk dirimu dan keluarga, berguna untuk orang banyak. Hidup bukan hanya sekedar materi semata, bukan hanya tentang rumah yang bagus, mobil mewah, tapi hidup bagaimana bersyukur kepada Allah terhadap apa yang telah diberikan-Nya” Ayah mencoba menjelaskannya sebaik mungkin dnegan kata-kata yang kucoba kucerna untuk anak seusiaku. Aku hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan Ayah.

—————————–00—————————–

Aku teringat pada Ayah yang semasa hidupnya selalu berpegang teguh untuk hidup sederhana, disiplin dan tidak mengambil barang orang lain. Nilai-nilai moral yang ditanamkannya semenja kecil. Sebagai seorang abdi negara, seornag tentara yang gagah perkasa yang mengabdi untuk bangsanya. Aku bangga padanya walaupun ketika aku kecil tidaklah bermain Barbie seperti teman-temanku, tidak pula bermain game elektronik,  malah Aku berlari ketika sore mengejar layang-layang, atau mengaji ke surau. Karena gaji Ayah tidak akan pernah cukup untuk membawa mainan-mainan bagus tersebut sampai kerumah kami. Gaji Ayah yang pas-pasan untuk membiayai hidup dan menyekolahkanku ke perguruan tinggi negeri.

 Mungkin para koruptor tidak semakin merajela di negeriku ini. Mungkinkah mainan juga dapat berstimulasi untuk menjadikan para Ayah yang baik untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya demi kemewahan. Para Ayah yang mencoba memenuhi kebutuhan anak-anaknya, mencoba mengkuliahkan anaknya sejauh mungkin keluar negeri, membelikan istri-istrinya tas dan pakaian bermerek mahal karena ketika arisan istri-istri lain pamer barang-barang yang dimikinya. Mungkin Koruptor adalah para Ayah yang terjebak dalam lingkaran setan dan sudah menikmati berada didalamnya dan tidak tahu jalan kembali.

By aphroditeluvapple Posted in THOUGHT

3 comments on “Mainan dan Korupsi

  1. Pingback: Listrik Diputus, Dukun Ngak Bisa Bertindak | Aphroditeluvapple's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s