Sampah Dimana-mana,Buat Pusing Kepala

Ini untuk kesekian kalinya aku begitu terganggu dengan sampah. Mungkin ini adalah hal sepele (bila memandangnya dari sebuah bekas bungkus plastik permen) yang bila tidak dari sekarang di cermati dan di tanggulangi akan mendatangkan bencana maha dahsyat. Sampah juga ikut andil menjadikan ibukota seperti sebuah Venice di suatu hari, sebuah kota dengan tepian sungai, dan yang kurang hanya gondola-gondolanya saja. Sampah tidak hanya menjadi permasalahan di ibukota tetapi di kota tempat ku bermungkim yang konon dulunya sering menggondol adipura (penghargaaan kota terbersih di Indonesia)

Ini merupakan suatu hal yang sudah dimaklumi oleh para traveler-traveler yang berkunjung di Indonesia. Mereka memaklumi dengan hati yang menjerit melihat sampah teronggok di setiap sudut kota. Ketika mereka tidak mampu berbuat lebih banyak, mereka hanya memberikan sebuah tatapan iba dan nanar, seakan-akan Indonesia memang surga dunia yang indah dan sekaligus gudang sampah dengan penumpukan dimana-mana. Ketiak aku malu mengajak mereka, para pengunjug kotaku untuk datang ke pantai, ke gunung atau pun hanya lewat di jalan rayanya. Pikiranku menerawang mengingat kejadian demi kejadian…

Sepenggal cerita di sebuah malam di jembatan Siti Nurbaya

Seperti biasanya Jembatan Siti Nurbaya merupakan salah satu pilihan tempat untuk bisa menikmati kota Padang di malam hari. Saat itu aku bersama Chirstina Schulter yang penasaran ingin makan pisang bakar. Seorang temannya yang juga berasal dari Jerman ikut bersama kami, Daspommus.  Katanya bukan hal yang lumrah untuk mencampur anatra keju dengan coklat di tempatnya berasal, makanya mereka penasaran. untuk mengobati rasa penasaran mereka dengan menikmati indahnya kerlipan lampu dan langit yang cerah berbintang, di salah satu tempat di antara puluhan penjual pisang bakar lainnya. Aku memesankan dua buah pisang bakar coklat, yang sengaja tidak kupesann untukku karena sudah bosan memakannya.

I like it more than pisang goreng” celetuk  chirstina.

Setelah puas menikmati malam dan ngobrol , kami memutuskan pulang. Pommus memintaku untuk menanyakan kepada penjual dimana bisa membuang sampah tisu yang digunakannya untuk membasuh mulut. Kemudian, aku menanyakan kepada gadis penjual pisang bakar. Sedih dan marah aku akan jawabanya, ketika ia menunjukkan sungai dibawah jembatan. ““buang disitu”, katanya. Aku cuma mampu berkata dan mengingatkan, bahawa ia harus menyediakan tong sampah, kalau semua orang berpikir untuk melakukan hal yang sama dengannya akan dapat menyebabkan hal yang berbahaya bagi kota Padang yang kucinta dan kujaga selalu.

Pommus tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya dan aku pun tidak dapat berbohong, karena ia juga mengerti bahasa Indonesia. Pikiranku melayang ke perjalanan beberapa bulan yang silam….

Sepotong cerita di sebuah Air terjun Tiga Tingkat

Bersama beberapa orang teman, ketika itu aku mengajak Moris dari Austria dan Pak Cik Zul (tentunya ia orang Malaysia) untuk berenang di air terjun tiga tingkat. Ketika itu ada juga dua orang drai pulau seberang yang sedang backpacking ke Padang. Ditambah beberapa teman yang lain. Sengaja kami berhenti untuk membeli nasi bungkus dan membawanya ke lokasi dengan tujuan setelah berenang kami langsung dapat menikmati makanan. Perjalanan yang ditempuh untuk ke air terjun berupa trekking yang masih dipenuhi semak belukar, karena maklum kawasan ini belum banyak terjamah turis dan wisatawan lokal lainnya. Kadang nyamuk dan lintah tak segan sesekali menghampiri kami tanpa permisi. Kami berenang di tingkat kedua, karena belum menemukan rute untuk tingkat selanjutnya, dan mendaki bebatuan sangat tidak memungkinkan karena begitu licin. Setelah berenang, kami menikmati nasi bungkus yang dibeli tadi.

Selesai makan, beberapa teman tidak peduli dengan bungkusan tempat makanan yang berupa kertas dan plastik minuman. Ketika kami pulang  tidak ada yang bergegas mengemaskan sisa-sisa bungkusan. Moris melakukan hal lain, aku begitu takjub ketika ia malah memungut sisa bungkusan teman-temanku yang sudah berlalu, ia memasukan ke dalam sebuah kantong plastik besar. Aku membantu membawakan bawaanya karena ia membawa kantong sampah tersebut. Menurunin bukit sambil membawa plastik sampah.

Sesampai dibawah di dekat sebuah warung pondokan penduduk, ia mengembalikan kantong plastik berisi sampah tersebut, agar aku meletakkanya di tempat sampah. Aku menjinjing dan bertanya kepada pemilik toko dimana aku bisa membuang sampah tersebut. Dan lagi-lagi jawaban yang diterima sangat mengecewakan.

lah tadi kenapa ngak langsung dihanyutkan aja kesungai, kan lewat sana tadi” kata si pemilik warung

Untung saja Moris tidak bisa berbahasa Indonesia, kalau ia mengerti pasti sangat kecewa. Bagaimana ia sangat menjaga lingkungan yang notabene bukan tempat tinggal dia. Ketika dia menanyakan apa yang dikatakan si pemilik warung, dengan enggan aku melakukan miss translating, “kata penjaga warung, kita harus mencarinya disekitar sini, pasti ada tempat untuk tumpukan sampah” kata ku bohong

Kembali lagi ingatan ku masih segar dengan kejadian beberapa bulan silam.

Di suatu pagi di pantai  walikota (Wilayah Lingkungan Kota)

Di saat itu, bersama Nicole, seorang Amerika dan Fitriana dari Medan. Pagi itu kami lari pagi menuju pantai. Pantai yang dulunya biasa aku kunjungi dengan sahabat-sahabat ketika bersekolah dulu. Pantai yang di tepinya terdapat bebatuan besar, dan biasanya aku akan berteriak disana seperti adegan-adegan di televisi ketika orang sedang stress atau melepas penat. Tapi sayang sekali pagi itu pemandangan yang aku jumpai sangat berbeda. Ribuan tenda-tenda makanan mengisi pesisir pantai, dan pagi itu yang kutemui ratusan sampai berjejer, puluhan sampah kelapa muda, botol-plastik bekas minuman sampai onggokan barang bekas seperti baju ataupun sepatu.

Seharusnya pagi itu menikmati indahnya alam menghirup segarnya pagi dan malah beralih pembicaraan mengenai sampah. Dia sangat menyayangkan sekali bagaimana masyarakat Indonesia belum peduli terhadap sampah dan lingkungan.

you are really gift with this beautiful and amazing place,you need to protect them, before its too late” kata Nicole.

Buanglah Sampah Pada Tempatnya

Buanglah Sampah Pada Tempatnya

Dikamar dan Sebuah Botol Plastik Mineral Bekas

Sekali lagi aku terkenang oleh seorang Malaysia. Pak cik  Anwar namanya, pagi-pagi datang ke toko dan mau berpamitan hendak berangkat ke Pekanbaru sebelum  mobil-travelnya datang menjemput. Aku kaget sekali dengan dengan sebuah benda yang disodorkannya padaku. Sebuah botol plastik mineral bekas.

“saya tidak tahu dimana tempat sampah dirumahmu, saya tidak enak letak ini di kamar” katanya padaku.

Aku baru teringat tidak pernah memberitahukan dimana meletakan sampah di rumah. Sebegitu penting dan perhatiannya terhadap sampah sehingga tidak mau meninggalkan jejak barang sedikitpun, dan yang aku tahu bahwa membuang sampah sembarangan di Malaysia akan menjadi urusan besar dengan denda yang tinggi pula.

———————-  00———————-

Lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas, ketika aku membawa sepeda motor dan aku terkena lentingan puting rokok yang dilempar oleh sopir yang tidak bertanggung jawab.

 Note:

cerita ini terinspirasi dari orang-orang yang kutemui dan mereka sangat prihatin dengan sampah di Indonesia.

sebagai generasi muda kita harus saling mengingatkan, seperti biasa, rahasianya mudah aja, start from yourself and start now!

Advertisements

4 comments on “Sampah Dimana-mana,Buat Pusing Kepala

  1. aku pernah juga jalan bareng sama temen bule. Dia tahan ngantongin gelas akua sampe ketemu tong sampah. Terus dia ngeliat ada orang buang sampah sembarangan di depan kami, dia berbisik sama saya, “kok bisa sih dia buang sampah seenaknya begitu?” Dalam hati saya jadi ga enak sambil mikir, “well it’s common here, just dont get surprised…”

    Kadang suka malu, bule2 aja begitu concern sama environment kita waktu berkunjung kesini, sedangkan kadang kita sendiri suka nggak perduli T_T

  2. Jalanan juga jadi bak sampah raksasa. Orang dengan seenaknya buang sampah di sepanjang jalan (gak kebayang kalo satu mobil lagi makan sekilo atau dua kilo duku) 😦

    OOT : Dulu waktu ke Padang sempat lihat jembatan Siti Nurbaya dari toko keripik Christine Hakim. Ih, pingin banget bisa ke jembatan, sayang, karena dalam rangka dinas dan perginya sama bos jadi gak bisa ke sana 😦 Harus balik ke Padang suatu hari nanti betul-betul dalam rangka liburan yeaaaaah 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s