Hikayat Dua Desa dan Tambak Udang

Daerah pesisir pantai yang indah menawan dengan sejuta pesonanya. Terdapat dua buah desa yang hidup rukun dan saling berdampingan. Penduduk yang ramah,  saling tolong menolong dan gemar bergotong royong. Suhaimin dari desa Makmur akan selalu berkunjung menemui sahabat dan kerabatnya didesa Sebelah. begitu juga Polmana dari desa  Sebelah yang juga akan mengunjungi sanak saudaranya kedesa Makmur. Hidup mereka memang jauh dari kata mewah, tetapi mereka bukanlah orang-orang miskin. Apa yang mereka mau untuk kebutuhan hidup tersedia semua oleh alam,  ikan-ikan,udang, sotong, cumi tersedia melimpah dilautan. Air bersih pun ada di sungai yang mengalir tak jauh dari desa berasal dari pegunungan, sungai-sungai itulah yang mengaliri sawah dan memberikan padi serta kebun-kebun mereka menghasilkan  buah dan sayuran yang bergizi untuk keluarga mereka.

inahnya mangrove yang menyeimbangkan ekosistem

Namun semua tidak sama seperti dahulu lagi, ketika  seorang kapitalisme kaya nan jauh dari negeri seberang, menjanjikan uang yang banyak dari bertambak udang. Uang yang tidak hanya mencukupi kebutuhan mereka, tapi bisa menyekolahkan anak-anak mereka, membelikan barang-barang yang dulu hanya mereka bisa lihat di televisi. Penduduk didesa Makmur berlomba-lomba menjadi peternak tambak, satu persatu lahan mereka yang dahulunya dijadikan sawah, kebun, berubah menjadi tambak udang. Tidak ada lagi kebun yang dulu hijau dan sawah yang menguning.

Jakarta-Punya-Hutan-Mangrove_kidnesiathumb630x368

Suhaimin berkata kepada karibnya di kota Sebelah “Apakah engkau tidak tertarik menjadi penambak udang seperti kami, kami menghasilkan cukup uang untuk membangun rumah, memenuhi kebutuhan sehari-hari, menyekolahkan anak-anak, dan kamu tahu si Paiman diujung desa sana sudah memilki truk untuk mengantarkan udang-udangnya,serta sebuah mobil baru”. Suhaimin mencoba memberitahukan kawannya mengenai mapannya ketika ia menjadi penambak udang dibandingkan ketika ia berladang dulu.

Penduduk di desa Sebelah tidak mau beralih merubah ladang-ladang mereka menjadi lautan tambak udang. Mereka tetap dengan prinsipnya bahwa bertambak udang tidak lah lebih baik . Bujuk Rayuan dari para kapitalisme mereka tidakkan, bahkan sanak ataupun teman mereka dari desa Makmur pun datang membujuk. Tapi mereka tetap dengan prinsip menjaga lading, sawah dan hutan mereka.

Dan hampir seluruh penduduk didesa Makmur bertukar haluan menjadi penambak udang, karena uang yang didapatkannya dari penambakan udang .Mereka tidak menyadari Munculnya perkembnagan tambak yang tidak terkendali mengakibatkan maslaah lain, munculnya akumulasi limbah yang berujung kepadan pencemaran lingkungan. Disepanjang pantai terjadi pencemaran yang tidak bisa dikendalikan.

Terlena dengan sejumlah uang yang didapatkan, penduduk desa Makmur juga tidak pernah diajarkan untuk mengetahui tentang pentingnya pengelolaan limbah. Penduduk desa Makmur tidak mengetahui bahwa sisa-sisa pakan udang-udang tambak mereka telah menggangu ekosistem pantai. Populasi alga bertambah karena penumpukan sisa pakan udang, dan populasi alga tersebut menggangu komunitas ikan.

 ———————————————————–

Tahun berganti tahun, berlalu dengan cepatnya, penambakan udang dalam skala besar tidak selalu berdampak baik dalam jangka panjang, tanah yang dipakai untuk bertenak udang telah mengalami tingkat keasaman yang tinggi. Tanah-tanah tersebut mulai rusak, dan permintaan dari Kapitalis tidak lagi sebanyak dahulu, katanya di negeri seberang juga mengalami resesi, sehingga mau tak mau penduduk dinegeri seberang juga harus mengencangkan ikat pinggang.

isl04

seporsi udang -harus kehilangan manggrove untuk dijadikan tambak

gfH3g

Penduduk tidak lagi memiliki pemasukan seprti biasa. Nasi pun telah menjadi bubur, daerah mereka yang dulu subur tidak seprti dulu lagi. Tambak-tambak udang tidaklah seefisein yang dijanjikan dulu. Mereka telah mengorbankan hutan-hutan bakau mereka, membabat hutan hutan tersebut demi tambak udang. Dan sudah sepuluh tahun kini, tambak udang mereka tidak manghasilkan seperti dulu lagi karena keasaman lahan dan pencemaran telah merusak hasil panen udang. Dan itu butuh waktu puluhan tahun setidaknya empat puluh tahun untuk membuat tanah mereka pulih seperti sedia kala. Mereka tidka bisa lagi kembali berladang dan bertani seprti dulu lagi.

Bahkan saat ini pun mereka harus membeli air kedesa sebelah, karena air mereka tidak bisa digunakan lagi, telah bercampur dengan air laut. Hari-hari mereka tidak lah seperti dulu lagi, satu per satu harta yang mereka milki terpaksa dijual untuk membeli bahan makanan, krena mereka pun tidak pernah bisa menanam dilumpur hasil peninggalan tambak. Hanya wajah-wajah suram dan penuh keletihan yang menghiasi wajah para orang tua, dan mereka tidka punya sesuatu untuk anak cucu mereka.

Kalau mereka dulu seperti teman dan kerabat mereka didesa seberang yang tidak tergiur harta semata. Mungkin mereka tidak akan hidup menderita dan menyedihkan seperti saat ini. Harta yang dulu mereka banggakan pun pupus sudah.

tambak-udang-di-marunda-yang-kini-kering-002-mudasir

tamabk udang yang kian mengering

———————————————————

Saudaraku di negeri seberang, saudaraku yang masih memilki hutan bakau yang indah, saudaraku yang masih memiilki hutan-hutan yang lebat, jangan lah seperti kami. Bahkan kami pun tidak mengais apa-apa dari lumpur. Jangan kan ikan besar, ikan kecil pun enggan ke laut kami. Jangan kan padi, ilalang pun enggan tumbuh ditanah kami. Saudaraku di negri seberang, engkau yang masih memiklik tempat yang indah, masih memilki tanah untuk ditanam, masih memiliki laut untuk dipancing ikannya. Jagalah mereka, karena mereka tidak hanya untuk sekarang, tetapi untuk cucu cicit kita dimasa mendatang. Jagalah mereka untuk hari ini dan masa depan. Cukuplah kami, menderita kelaparan, kekurangan air bersih, bahkan untuk mencuci pun kami harus membeli air. Janganlah karena harta dan janji kapitalisme, mebuat engkau membabat habis hutan mu menjadikan ladang, membabat bakau mu dijadikan tambak, membom ikan-ikanmu karena tidak hanya ikan besar yng ikut mati, ikan-ikan yang baru belajar berenang pun dan karangnya ikut rusak. Jangan engkau menyesal seperti kami. Cukup kami sudah.

Picture was taken from:

http://www.kidnesia.com/Kidnesia/Potret-Negeriku/Jalan-Jalan/Jakarta-Punya-Hutan-Mangrove

http://tnalaspurwo.org/hutan-mangrove.html

http://fertobhades.wordpress.com/2007/10/15/selamatkan-mangrove/

http://www.forumresep.com/resep-udang/279820-resep-masakan-udang-bakar-saus-barbeque.html

Advertisements

19 comments on “Hikayat Dua Desa dan Tambak Udang

  1. @Nurmah Daleni…iya, benar ada beberapa kata2 yang ke skip:(, i think that i need an editor^^, @johanesjonaz, yup:( sedih sekali, tetapi kita harus memikirkan untuk jauh kedepan bukan hanya utk skrang, bisa ngak ya modernisasi yang bertanggung jawab?

    • udah lama di luar ya mbak?
      kadang saya pun merasa kacau dengan bahasa indonesia saya, bukan karena dibuat-buat tapi semata-mata karena jarang dipakai saja.

      kalau menurut saya, hanya sedikit saja yang dibenahi, semisal dari paragraf satu

      di desa
      ke desa
      di lautan

      biasanya dipisah. selebihnya kalau pemakaian kata-kata atau diksinya bagus. dan yang terutama adalah ide ceritanya yang tidak bisa dibeli.

      ditunggu cerita lainnya mbak.

      • belum keluar mbak:(, iya penulisan bahasanya masih banyak kekurangan. i hope that i can improve day by day. terimakasih ya mbak sudah mengoreksi, i’ll fix it soon. mbak dapat vote dari cil, cil ngevote yang ke 24.

      • Makasih banyak untuk vote nya ya…

        ah, masalah bahasa mah…mana pernah kita master dalam bahasa indonesia kita ini… hehehehe.. ingat dulu jaman sekolah dan kuliah, kadang nilai bahasa indonesia lebih rendah dari bahasa asing.

        salam hangatku.

  2. sedang menerawang apa yang akan terjadi dengan negeri seberang, hmm cukup pelit saat nominal uang tergantikan dengan kemakmuran dan kehancuran alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s