Jumat Kelabu

Jumat ini seperti biasa aku menaiki mikrolet untuk menuju English Library ke daerah Perumnas. Jumat Sore selepas bekerja aku selalu mampir utuk mengikuti pertemuan, bermain game, chit-chat dengan native, sekedar melepaskan kepenatan serta membuat mulut atau pun telingaku peka dengan bahasa ingggris karena sangat jarang digunakan sekarang. Mikrolet memang sudah penuh ketika kunaiki. Ada seorang Bapak yang pulang dari pabrik duduk dibangku tambahan karena aku mengenali dari cara ia berpakaiannya, dua orang karyawan wanita dengan seragam yang sama duduk diseberangku, seorang wanita berbaju batik, dan disebelah kiriku duduk seseorang ibu berkeurudung dan disamping kananku seorang wanita dengan seorang anak berseragam sekolah dasar. Seorang wanita yang memangku dua buah tas sekolah, sebuah tas yang berupa ransel dan selempangan. Memang sudah lazim sekarang melihat anak-anak bersekolah dengan membawa banyak buku di tas sekolahnya, karena tuntutan pelajaran yang sangat banyak disekolah.

Aku memperhatikan wanita dan anak itu dari samping. Karena aku menduga itu seorang pengasuh yang baru saja menjemput anak majikaannya sepulang sekolah., dan perhatiaanku jadi agak tertumpu kepada sang anak yang sedang asyik menelpon sambil membuka buku cetak dipangkuannya. Dari percapakan tersebut dapat dimengerti bahwa si anak memastikan halaman pekerjaan rumah yang harus dikerjakan malam ini. Aku terkagum-kagum sekaligus ironis melihat anak zaman sekarang. Anak-anak zaman sekrang begitu cepat merespon tekhnologi tetapi begitu lamabat merespon tugas-tugas disekolahnya. Untuk tugas yang hari ini saja harus menelpon teman sekolahnya lagi untuk memastikan mana tugas yang harus dibuat Apakah mereka tidak mencatat atau mereka memang terlalu pintar untuk memanfaatkan kemajuan tekhnologi?.. apakah mereka tidak memilki agenda seperti aku dulu ketika masih SD?, dimana agenda tersebut mencatat hal-hal yang akan dikerjakan seusai pulang sekolah ataupun mencatat hal-hal yang akan dibawa kesekolah keesokan harinya.

Pandanganku masih belum teralihakan dari anak tersebut, tak lama kemudian si anak meminta buku dan secarik kertas kepada wanita yang berada disebelahnya. Dari cara anak itu meminta mengambilkan buku dan secarik kertas dari dalam tasnya bukanlah cara yang sopan seperti anak yang merajuk meminta uang dengan orang tuanya. Aku memperhatikan lagi, si anak yang membaca kertas yang dikeluarkan wanita tersebut.t. Tiba-tiba tak lama berselang, dia berteriak histeris karena ia tidak mengerti dengan apa yang ditulisnya. “ ini tidak menyambung kalimatnya” katanya dengan lantang. Aku dan orang di dalam mikrolet tersontak kaget dan mengarahkan pandangan pada anak tersebut. Dia menjerit marah pada wanita disebelahnya. Wanita disebelahnya tidak terima dan memarahi anak tersebut. “ tadi aku sudah tanya apa sudah paham betul, kamu bilang sudah pacak, sekarang jangan protes” kata wanita itu kepada anak tersebut. dan menyuruh anak itu diam.
“ iya…. tapi kalimat ini tidak nyambung, aku ingin dapat seratus, bagaimana aku bisa dapat seratus, kalau yang ini saja tidak bisa” teriaknya lagi kepada wanita itu. Wanita disebelahnya tidak mengacuhkan atau mencoba menenangkan anak tersebut ataupun mencoba melihata tulisan apa yang dibaca anak tersebut. . Tapi wnaita itu malah teriak membalas teriakan anak tersebut “ sudah kamu diam saja, atau aku tinggalkan di sini”
Si anak tersebut bukannya malah tenang ditegaskan seperti kebanyakan anak lainnya ketika dimarahi, tetapi malah berteriak lebih histeris lagi. Wanita itu bukan malah menenangkan anak tersebut dengan cara yang lebih lembut tetapi malah berkata lebih kasar lagi “ kamu tidak diam aku lontarkan keluar “ tanpa menoleh kepada anak tersebut. Si anak berteriak lebih histeris lagi dan lagi. wanita itu menepuki mulut anak tersebut. Bukannya malah makin diam si anak tersebut menangis kesakitan sehingga raungannya menjadi semakin keras. Aku memalingkan muka dari adegan ketika si wanita itu mencoba menepuki lagi mulut anak tersebut. Aku hanya diam dan orang-orang di mikrolet hanya bisa saling lempar pandangan. Tidak ada yang berani menegur atau pun berkata. Ketika seorang wanita naik dan melihat perkataan konyol dan tingkah yang tidak sewajarnya itu, dia menyunggingkan senyum. Dan anak itu malah berteriak “kenapa ketawa-ketawa”. Wanita tersebut mengurungkann niatnya dan memalingkan muka, tidak mau terkena getahnya.
Sore itu menjadi drama sebabak yang sunnguh tidak wajar dipertontonkan. Aku mendapatkan tontonan gratis, namun sungguh tidak ingin memperhatikannya lebih lanjut lagi. Apabila wanita itu pengasuh anak tersebut sungguh tidak pantas memperlakukannya secara kasar, dan seharusnya ia lebih bijaksana untuk menghadapi tipikal anak yang sombong dan keras kepala tersebut. Yah…. mungkin saja anak itu pintar dan begitu kritis terhadap soal yang didaptkannya, dan bersama wanita itu yang tidak bisa menanggapinya dengan baik malah memperlakukan anak tersebut dengan kasar.
Anak tersebut menangis kesakitan dan berteriak histeris lagi. Ketegangan semakin memanas, Wanita itu berkata “ diam kamu, gila kamu masih nangis”. Dan ada suatu kata yang keluar dari mulut anak itu “ mama jahat mengatakan anak dewe gila” . aku tersontak kaget dan mencoba merangkai adegan-adegan yang baru saja terjadi. Ternyata wanita yang disebelah wanita tersebuta adalah mamanya, sungguhh suatu keadaan yang sanagt berbanding terbalik, walaupun anak tersebut berpakaian seragam, tapi dia anak kecil yang manis bak tuan putri dan wanita disebelahnya duduk dengan celana pendek dan terlihat begitu kusut dengan pangkuan dua tas ditangannya yang menunjukkan seperti seorang pengasuh menjemput anak majikan dengan tas-tas dibahu dan pangkuannya.
“mama, chici sayang mama”
Wanita itu hanya diam tanpa memperduliakan anak tersebut. “mama” dia meraih tangan wanita tersebut dan meletakkan tangan wanita tersebut di pipinya. Dielusnya tangan wnaita tersebut dengan lembut dan hanya suara isakan tangisan yang terdengar. Wanita itu tetap diam seribu bahasa tanpa memperduliakn anak tersebut. Walaupun banyak perkataan anak tersebut, tak satupun digubris wanita itu.
Terdengar sebuah pertanyaan dari seorang penumpang dibangku sudut kiri. “ maaf ya ce, kalo boleh tanya anaknya kelas berapa ya?”. Wanita tersebut itu menjawab dingin “ kelas empat”. Semua penumpang tersontak kaget, kelas empat berati perkiraan umur diantara 10-11 tahun. Anak yang sudah cukup besar dan seharusnya mandiri dan tidak harus merengek minta dibawakan tas oleh orang tuanya. “ sudah besar ya ce, anak yang keberapa ce?” otomatis penumpang tersebut menjadi kepo karena baru saja disuguhkan adegan dramatis.
“ anak satu-satunya” jawab cece itu lagi. Terdengar gumanan oooooo panjang dari penumpang yang lain. “dio galak cak itu kalau marah, kehendaknya harus dituruti, karena anak sikok ini” seolah-olah wanita tersebut mengamini perlakuan manja anaknya.
—————–
Tak lama kemudian aku turun dari angkot tersebut, karena aku sudah sampai ditujuan. Terlepas dari apakah wanita tersebut orang tua kandungnya ataupun bukan. Tetap saja perlakuan manja yang diberikan oleh wanita tersebut tidaklah wajar. Hal remeh seperti membawa tas-tas itu seharusnya tidaklah dilakukan oleh wanita itu, karena sianak bukan lagi balita yang harus di bantu untuk segal sesuatunya. Ketika aku samapi di english library dan sedang mengisi daftar hadir, ada sebuah tas yang menghalangi langkahku. Dan terdengar perkataan seorang bule kepada anaknya yang berusia empat tahun. “ hey sham where is you put your bag, it’s blocking the way, would you like to put it in the right place?.” Sham yang baru berumur empat tahun tertatih menarik tas yang besarnya hampir sama dnegan badannya. Dia menarik tas tersebut dan meletakknya kedalam locker tanpa bantuan Ayahnya. Sang ayah hanya melihat dan memperhatikan dengan seksama. Ah begitu kontras dengan yang kulihat tadi diatas mikrolet. memang seharusnya anak-anak sudah dididik mandiri dari kecil. Jadi kalau ada perlakuan anak yang melonjak mungkin si anak tidak bisa saja disalahkan, bukannya dia lahir ibarat kerats putih. Dan coretan-coretan yang digoreskan orang dewasa baik orang tua, orang orang disekitarnya lah yang bisa saja itu coretan yang bermaknsa bagus atau coretan yang bermakana negative.

Ditambah lagi beban pelajaran yang semakin banyak disekolah menyebabkan banyak orang tua membebaskan ank-anak dari tanggung jawabnya. Seperti mencucui piring makan mereka atau membawa tas diangkot tadi, itu tidaklah menjadi pekerjaan orang tua tapi telah menjadi tanggung jawab anak. Dan hal sepele seperti itu memang sudah dibentuk semenjak kecil. Karena jangan terheran-heran melihat kelakuan anak menjadi sangat manja dan melunjak-lunjak, karena secara tidak sadar orang tua telah memperlakukan mereka seprti ini. Nah, begitulah sepenggalan cerita jumat sore kelabuku, mudah-mudahan bisa diambil manfaatnya.

13 Oktoberr 2012

*pacak=bisa
*dewe=sendiri
*sikok=Satu
*galak cak= mau seperti/suka seperti
*kepo=ingin tahu

Advertisements

2 comments on “Jumat Kelabu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s