Si Gadis Mata Sapi

Pernah dengar cerita ini sebelumnya?. Ini tentang seorang gadis yang sangat cantik jelita, berpendidikan tinggi dan berasal dari keluarga kaya raya. Dari kecil dia selalu di manja, apa saja yang dia mau selalu bisa dipenuhi, sedari kecilpun tak pernah menginjakkan kaki di dapur. Apapun yang dia mau seorang pembantu siap melayaninya. Ketika beranjak dewasa dia tumbuh menjadi gadis yang pintar dan bisa kuliah. Ketika berumur dua puluh lima tahun jatuh cinta dan menikah dengan seorang lelaki. Kehidupan mereka sangat bahagia karena mereka sudah punya rumah sendiri dan tidak harus susah memulai kehidupan berumah tangga dari nol seperti pasangan muda lainnya. Suatu ketika pembantu rumah tangganya sedang sakit dan balik ke kampung. Sang suami berkata kepada istrinya bahwa ia ingin makan makanan yang berasal dari tangan si istri. “Sederhana saja, aku cuma ingin makan telur mata sapi untuk lauknya. Tidak terlalu susah mebuatnya”, begitu ujaran sang suami kepada istrinya.

Pagi-pagi sekali berangkatlah si gadis dengan semangat ke pasar. Dia bertanya kepada para penjual daging apakah mereka menjual mata sapi. Para penjual memberitahukan kalau mereka tidak menjual mata sapi. Hampir saja sigadis menyerah untuk menayakan dimana ada yang menjual mata sapi. Dia heran kenapa suaminya ingin makan mata sapi, padahal tidak ada penjual daging yang menjualnya. Sampai disuatu tempat penjual daging terakhir yang ditanyanya, “ Saya tidak menjual mata sapi, tapi kamu bisa ambil dengan gratis kalau kamu membutuhkannya karena kami tidak menggunakannya lagi. ” Dengan senang hati dia pulang kerumah, walaupun tidak suka, dia membersihkan mata sapi dan merebusnya serta menambahkan bumbu. Dan dihidangkannya telur rebus serta mata sapi yang dia rebus tersebut. Ketika pulang suaminya senang sekali karena hari ini ia akan memakan masakan pertama istrinya. Dan dibukakan lah tudung saji oleh istrinya. Dan tercengalah ia dengan telur mata sapi yang dilihatnya. “ Kamu mau makan langsung suamiku” tanyanya lembut. Si suami hanya diam membisu, selera makan yang begitu tinggi tiba-tiba berubah ketika melihat plotan mata sapi dipiring. “ nanti saja, sebentar lagi, ayo kemasi dulu barang-barangmu kita akan kerumah Mama” kata suaminya. “ Kenapa sayang?, kenapa tiba-tiba ingin mengajakku ketempat Mama”

***
Ada yang mengatakan akhir ceritanya kalau sang suami mengantaran sang istri kerumah orangtuanya untuk belajar masak. Karena apa yang diminta suami tersebut bukanlah makanan yang susah. Begitu kecewa ia terhadap istrinya, untuk masakan sederhana pun istrinya tidak tahu, itupun kalau telur mata sapi bisa dikategorikan berupa masakan. Mama mengatakan padaku, kalau cerita diatas harus diambil nilai moralnya. Ia mengatakan bahwa, “ wanita harus bisa memasak, walaupun itu masakan sederhana. Banyak pun uang yang kamu miliki dan setiap hari pun kamu makan direstorn mewah. Ada kalanya kalau suamimu ingin makan apa yang kamu masak dengan tanganmu. Itu lah kasih dan salah satu perwujudan cintamu terhadap sauamimu. Makan dari tanganmu, semua hidangan yang kamu masakan akan terasa nikmat. Tidak perlu kamu menjadi master chef untuk menyenangkannya. Tetapi setidaknya kamu tahu telur mata sapi itu apa, bisa membedakan laos dan jahe, membedakan gula dan garam, merebus air tidak sampai gosong.” Begitu selalu Mama menceritkan padaku.

Ia memang tidak menyuruhku masuk kedapur sejak sekolah dasar, karena materi pelajaran yang harus kupelajari ketika bersekolah sangat padat. Waktu SMP atau pun SMA aku hampir tidak pernah menyentuh dapur, karena sibuk berkutat dengan timbunan pelajaran, dari pagi sampai siang di sekolah, les sampai sorenya, malam pun harus belajar mengerjakan tugas dari sekolah. Tetapi cerita diatas yang diceritakan Mama merupakan suruhan sacara tidak langsung untuk belajar memasak. Pelan-pelan setamat kuliah pun aku belajar menanak nasi, membuat sambal goreng, merebus sayur, itu terlihat sepele pada awalnya, tetapi mengerjakan apa yang tidak pernah dikerjakan sebelumnya membutuhkan waktu untuk menjadi bisa mengerjakannya.

Sekarang aku pun bisa memasak,setidaknya setiap weekend atau sesekali membawa bekal ke kantor, Serta Aku pun masih bisa bekerja, dan memang kodrat wanita harus mengetahui hal lenyeh-lenyeh seperti memasak, namun penting dan tidak dapat disepelekan. Mama tetap bekerja dan masakannya selalu tetap enak dan dinanti Papa, Aku dan adekku. Bisa kulihat lahapnya suapan Papa ketika memakan makanan masakan Mama. Jadi bekerja, pendidikan yang tinggi atau memiliki pembantu sekali pun bukanlah alas an untuk tidak memasak, dan apalagi memasak untuk suami dan keluarga sendiri. Ah, aku jadi ingat Mama malam ini dan aku rindu masakannya.

nb: titip rindu buat mama di rumah

Advertisements
By aphroditeluvapple Posted in story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s