Aku dan Martabak HAR

Sudah sejak sampai di kota Palembang, aku direkomendasikan untuk mencoba martabak HAR. Tetapi tidak terniat dihati sedikitpun untuk mencobanya. Karena melihat tampilannya, aku selalu membedakan dengan martabak Mesir yang biasa aku makan di Padang. Menurutku tampilannya terlihat kurang menggugah dari kawan sejenisnya sesame martabak. Jadi setiap ada yang mengajak makan atau menawarkannya selalu aku tolak dengan halus.

Suatu malam dirumah sepupu, perutku yang tidak mau diajak kompromi lagi karena sedari siang tadi memang belum ada sebutir nasi pun atau makanan yang singgah diperutku. Jadi tawaran saudaraku untuk makan martabak HAR terpaksa dan harus kuterima. Kuambil kantong yang diberikannya, didalamnya terdapat seporsi martabak HAR. Kubuka dengan setengah hati, karena wanginya tak lah sesemerbak wangi martabak Mesir. Kubuka kuah karinya yang menurutku lebih mirip seperti mencretan bayi. Dan hanya irisan rawitnya nya lah yang membuatkuu semangat untuk memakannya ( tetap  lah ya sebagai gadis minang, pedas tak terlepas dari lidahnya).  Aku makan sesendok potongan martabak HAR. Hmmm……butuh waktu lama aku menguyahnya ( biasanya dua atau tiga kali kunyah makanan langsung disantap) karena di otak sudah terpatri kalo makanan ini tidaklah enak. Tapi tak disangka, respon lidahku sangat berbeda, rasa kuah karinya begitu spesial, gabungan rasa asin nan berempah, dan pedasnya sangatlah pas, ditambah dengan potongan martabak berisi telur. Sungguh terasa assoy rasa nya dilidahku. Tak terasa dalam beberapa menit martabak tersebut sudah habis kusantap. Dan tinggalah piring yang kosong melompong. Itu sunnguh rekor makan tercepat untuk sesuatu yang tidak kusuka.

 Image

Mulailah aku berburu martabak HAR dipelosok negeri Musi ini. Tidak barang sekalipun kulewatkan hari liburanku untuk tidak mencoba martabak HAR. Mulai lah aku mencoba martabak HAR didepan mesjid Agung karena rekomendasi seorang teman ketika berskype ria. Ini salah satu martabak HAR favoritku, limpahan kuah kari yang masih mengepul diatas martabak, ditemani secangkir teh es manis, menemaniku. Pemilik seorang India yang ramah dan masih bolak-balik Palembang-India untuk mengurus bisnisnya. Dan suprisenya lagi, aku diberi potongan harga ketika membayar. Ntah kenapa, mungkin senyumku yang ramah membuat orang ingin memberikan potongan harga atau Tuhan pun tahu uang ku dikantong juga lagi terbatas.

Selama dua hari selesai pulang ujiann berturut-turut aku pun singgah di tempat martabak HAR yang  lainnya. Tak jauh dari martabak HAR didepan mesjid Agung juga ada yang menjual martabak HAR. Rasanya pun tak kalah enak. Dan keesokannya aku berjalan tak jauh dari toko Martabak HAR kedua, menuju martabak HAR selanjutnya. Tak terhitung sudahh berapa banyak martabak HAR yang kukunjungi, dan bagiku Cuma ada dua rasa, yaitu enak atau enak sekali.

Kata teman kantorku yang juga keturunan India, martabak HAR itu merupakan nama dari perintis usaha martabak, yaitu Haji Abdul Razak, dan sekarang lebih dikenal dengan martabak HAR. Haji Abdul Rozak adalah saudagar Palembang keturunan India yang menikah dengan perempuan Palembang.  Haji Abdul Rozak sendiri sudah lama wafat (tahun 2001). Namun martabak ini tetap melegenda bagi masyrakat Palembang dan menjadi makanan yang harus dicoba kalau berkunjung kekota ini.  Tapi tidak diketahui pasti martabak ini berasal dari mana, namun banyak yang menyangka kalau makanan ini berasal dari India (tapi setelah aku  konfirmasi dengan teman yang di India, dia juga bingung, ngak ada tuh yang seperti martabak HAR di India, nah lho:D).

 

 Image

Martabak HAR itu sendiri adalah martabak telur. Hal yang pertama dilakukan adalah  membuat adonan kulit martabak, setelah adonan kulit martabak jadi kemudian dibuat menjadi tipis lalu dicelupkan kedalam minyak yang panas disebuah wadah penggorengan yang pipih. Membuat adonan ini menjadi tipis dan tidak robek butuh keterampilan khusus. Kemudian masukan kocokan telur ke atas kulit martabak yang ada di atas pengorengan tersebut,  telurnya pun bisa dipilih apakah menggunakan telur ayam ataupun telur bebek. lalu pelan-pelan balikan kulit martabak tersebut hingga menutupi semua telur yang diletakan di dalamnya.  Biarkan kulit martabak yang telah berisi telur itu di atas pengorengan hingga matang dengan tanda warna kulit yang telah kuning kecokelatan.

 Martabak yang telah matang diangkat dari pengorengan lalu di sajikan dengan kuah kari yang terbuat dari campuran kentang,  rebus yang ditumbuk, daging dan rempah-rempah.  Kuah kari dapat disajikan dengan disiram langsung ke martabak yang telah matang atau disajikan terpisah dengan menggunakan mangkuk.  Dan untuk menambah rasa pedas terdapay cuka asam dengan taburan rawit kecil. Dan bertamabha lah sensasi rasa martabak HAR.

Image

 Untuk saat ini, masih ada beberapa tempat martbak HAR yang ingin aku kunjungi. Dengan atau tanpa teman jalan  misi mencicipi setiap martabak Har tetap aku lakukan smapai sekarang.  Kalau menegingat bebrapa bulan silam aku masih sangat ogah dan menolak mentah-mentah kalau ditawari martabak Har, tetapi kalau aku ditawari martabak HAR sekarang, MANA TAHAN.:)!!!!!

 

*penulis lagi tergila-gila dengan martabak HAR, buat yang mau traktir, diterima open offering ya^^

 

 

 

 

 

 

 

   . 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

One comment on “Aku dan Martabak HAR

  1. Emang siapo yg nak nraktir, beli dewek y..
    yg d mksud tmn s’kantor k’turunan India “Tika” kaleee…hehehee…
    msh ado lg ci, HAR yg d simpang Sekip lbh enak..Hhhmmm Yummy..Laziz..Hau ch..dech pokoknyo….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s