TERSESAT


Sudah lima bulan Aku tinggal dikota ini, dan berencana melanjutkan kuliah dan bekerja. Di satu sisi ini bukanlah hal yang mudah karena kondisi dilapangan dan teknis  dengan  yang Aku rencanakan sangatlah berbeda. Secara teknis, dari kantor ke tempat kuliah butuh waktu  sekitar 20 menit, tetapi karena menggunakan transportasi umum, ditambah banyaknya lampu merah, dan belum lagi macet dijalan, perjalanan itu bisa mencapai satu jam lebih. Suatu ketika, sepulang dari ujian Aku menaiki bus untuk kembali kerumah. Aku menaiki bus jurusan yang biasanya membawa aku ke rumah. Ternyata bus itu melaju kearah yang berbeda dengan jalur yang biasa kulalui untuk menuju rumah . Aku masih saja berdiam di bus, karena tidak bisa bertanya ( bukanya tidak mau bertanya, tetapi kondisi di bus yang ramai  bukanlah tempat yng kondusif dan aman untuk bertanya). Sampai si kondektur bertanya Aku turun dimana. Kondektur berkata kalo Aku seharusnya tidak naik bus yang ini, karena hari yang sudah larut, bus sudah mau balik ke pangkalan, dan tidak akan kembali lagi ke arah menuju rumahku. Jadi Aku berada , di jalan yang tidak aku tahu itu entah dimana, “Naikilah bus yang berbalik arah dan berwarna merah dan itulah jurusan kerumahmu”, itu pesan yang disampaikan Si kondektur. Aku turun dari bus dan hari sudah  benar larut malam, dan Aku tahu berada diluar pada malam hari di kota yang kutinggali ini bukanlah sesuatu yang aman. Itu sangat jauh dari aman dengan tingkat resiko kejahatn yang tinggi di kota ini.

 

 Aku diam, dan tak tahu harus kemana. Pilihanku tetap berjalan, berjalan, dan berjalan tanpa tahu kapan bus kerumahku akan datang. Tak lama dari kejauhan akhirnya kulihat juga bus berwana merah yang terlihat hitam karena kegelapan malam. Aku lambaikan tanganku, dan bus itu pun berhenti. Dengan nafas tersengal aku terduduk dibangku bus. Serta merta aku pun tersenyum lega karena akhirnya bisa pulang. Dan aku pun bisa melihat ternyata kota ini pun terlihat sangat indah ketika malam ditaburi kerlipan lampu. Begitu hidup dan penuh pesona.

Menjalani pilihan didalam hidup sama seperti menaiki sebuah kendaraan disebuah negeri antah berantah. Disaat Aku merasa pilihan didalam hidupku adalah sesuatu yang tepat untuk kujalani, tetapi  baru Aku tahu kalau itu bukalah pilihan yang tepat untuk dijalani. Apakah Aku akan berhenti dengan pilihan tesebut ataupun melanjutkannya.  Sama ketika Aku menaiki bus tadi, bisa saja aku terus berlanjut atau berbalik arah. Masih ada waktu untuk memperbaiki ketika Aku tersesat, setidaknya Aku  menikmati proses yang kujalani. Jadi suatu  ketika Aku dihadapin pilihan itu lagi, aku tidak akan memilihnya, Karena Aku belajar ketika Aku tersesat.

 

 

 

 

                                                                                                                        

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s